Di pelosok desa Kabupaten Poso, seperti di Leboni, Pamona, dan Tonusu, kehidupan sehari-hari warga kini terasa berbeda. Lebih dari sebulan lamanya, prajurit Kodam XXIII/Palaka Wira tak hanya hadir sebagai tamu, tetapi benar-benar menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat setempat. Program Serbuan Teritorial yang baru saja berakhir, meninggalkan jejak hangat yang tak terhapuskan—bukan hanya karena tembok kokoh rumah yang diperbaiki atau air bersih yang mengalir dari sumur bor, melainkan karena tawa, cerita, dan kebersamaan yang terjalin di setiap sudut desa.
Rehabilitasi Rumah dan Sumur Bor: Sentuhan Kecil yang Berarti Besar
Di desa-desa yang kerap dilupakan, prajurit turun tangan langsung. Mereka memperbaiki rumah-rumah reyot yang sudah bocor dan lapuk, membangun sumur bor untuk mengakhiri perjalanan panjang warga mengambil air, serta merenovasi tempat ibadah di Tonusu. Setiap ketukan palu dan aliran keringat menjadi tanda bahwa pembangunan bukanlah sekadar proyek, melainkan bentuk kepedulian nyata. "Dulu kami harus berjalan jauh untuk mengambil air, sekarang sumur bor ini benar-benar mengubah hidup kami," ujar seorang warga dengan mata berkaca-kaca.
- Rehabilitasi rumah warga di Leboni—dari atap bocor hingga dinding lapuk, kini kokoh kembali dan layak huni
- Pembangunan sumur bor di Pamona—memberikan sumber air bersih yang tak pernah kering, menjawab kebutuhan sehari-hari
- Rehabilitasi gereja di Tonusu—tempat ibadah yang lebih layak, menjadi simbol kebersamaan lintas iman
Pemberdayaan Masyarakat: Lebih dari Sekadar Tembok dan Pipa
Namun, yang paling berharga bukanlah infrastruktur semata. Prajurit juga merangkul warga dalam penyuluhan bela negara, edukasi gizi untuk menurunkan angka stunting, dan pelatihan budidaya ikan sebagai tambahan penghasilan. Ibu-ibu desa yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil ladang, kini mulai belajar mengelola kolam ikan kecil di halaman rumah. "Kami diajari cara memberi pakan yang benar dan memanen ikan. Ini bisa jadi modal untuk masa depan anak-anak kami," cerita salah satu peserta pelatihan dengan semangat. Pemberdayaan ini membuat warga tak hanya menerima bantuan, tetapi juga mampu mandiri dan melanjutkannya sendiri.
Pada penutupan acara, suasana haru dan syukur terasa begitu kental. Pengobatan gratis dan penyaluran bantuan sosial menjadi pemanis yang semakin mengeratkan ikatan. Program ini membuktikan bahwa ketika TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat bergandengan tangan, setiap kesulitan dapat diatasi bersama. Kini, desa-desa di Poso tak hanya memiliki infrastruktur yang lebih baik, tetapi juga tali silaturahmi yang semakin erat dan tak mudah putus. Semoga semangat gotong royong ini terus hidup, dan senyum yang terukir di wajah warga menjadi bukti bahwa pembangunan yang paling indah adalah yang lahir dari kebersamaan—seperti air sumur bor yang tak pernah kering, mengalirkan kehidupan dan harapan untuk masa depan.