Pagi di Kampung Tuali, Kabupaten Keerom, punya cerita hangat yang bikin hati adem. Di antara pohon-pohon sagu yang jadi tulang punggung kehidupan, ada suara lesung berdentum penuh semangat, diselingi tawa riang yang bersahut-sahutan. Bukan hanya warga yang sibuk, tapi juga para prajurit Satgas Yonif 121/Macan Kumbang dengan seragam loreng mereka, duduk lesehan bersama, tangan mereka berlumur tepung sagu. Mereka tak cuma datang menjaga, tapi benar-benar turun, belajar, dan merasakan langsung denyut kehidupan warga. Inilah bahasa persahabatan yang paling tulus: lewat gotong royong mengolah budaya lokal yang paling berharga.
Lesung yang Menyuarakan Cerita Kedekatan
Dipingit Lettu Inf Iwan Tober Pandjaitan, para prajurit dengan rendah hati duduk mendengarkan Mama Beti, perempuan adat yang jadi guru hari itu. Tangannya yang lincah mengajar cara memukul batang sagu, memisahkan tepung, hingga mengeringkannya secara turun-temurun. "Lihat, Nak, begini caranya agar sagu kita tetap harum dan enak," ujar Mama Beti dengan senyum yang menyejukkan. Di antara dentuman lesung, canda dan tawa jujur mengalir. Rasanya, yang terjadi bukan sekadar kerja bakti, tapi obrolan hati yang terjalin dalam setiap pukulan, dalam setiap butiran sagu yang diolah bareng. "Mereka tidak cuma menjaga kami, tapi juga mau jadi bagian dari kami," ungkap Mama Beti, matanya berbinar penuh rasa syukur. Kedekatan yang tumbuh di tengah kerja bersama ini, kata warga, terasa lebih manis daripada sagu itu sendiri.
Sagu, Benih yang Menumbuhkan Kebersamaan
Kegiatan ini jauh lebih dalam maknanya bagi warga perbatasan. Ini adalah cara Satgas tak hanya mengamankan wilayah, tapi juga merawat hati dan tradisi. Dengan ikut serta dalam ritual harian yang jadi napas kehidupan, para prajurit menunjukkan hormat yang tulus pada kearifan lokal. Hasilnya, tumbuhlah persahabatan akrab dan saling percaya—pondasi kuat untuk kehidupan yang aman dan damai. Manfaatnya pun terasa nyata, bukan cuma untuk perut, tapi juga untuk jiwa:
- Pertukaran Ilmu: Prajurit belajar cara tradisional mengolah sagu, sementara warga merasa ilmu leluhur mereka dihargai dan takkan punah.
- Ikatan Sosial yang Kuat: Suasana penuh tawa mencairkan sekat, membuat interaksi sehari-hari antara Satgas dan warga jadi lebih hangat dan mudah.
- Pelestarian Tradisi: Momen ini mengingatkan generasi muda untuk terus menjaga warisan seperti mengolah sagu.
- Rasa Aman dan Memiliki: Warga merasa didampingi, dilindungi, dan menjadi satu keluarga besar.
Di Kampung Tuali, pelan-pelan, sagu tak lagi sekadar makanan pokok. Ia jadi simbol gotong royong yang menyatukan seragam loreng dengan kain tradisional, menyatukan cerita dari kota dengan kearifan desa. Setiap butiran tepung yang diolah bersama adalah benih kebersamaan yang ditanam dengan tulus. Dan seperti sagu yang mengenyangkan, kedekatan ini pun memberi kekuatan baru bagi warga untuk menjalani hari dengan lebih semangat dan percaya diri, karena mereka tahu, mereka tidak berjalan sendirian.