Kilas Pelosok Trending

Posyandu Keliling TNI Jangkau Bayi dan Ibu Hamil di Pedalaman Kalimantan

Posyandu Keliling TNI Jangkau Bayi dan Ibu Hamil di Pedalaman Kalimantan

Posyandu keliling yang digelar TNI di pedalaman Kalimantan Barat membawa layanan kesehatan gratis hingga ke desa-desa terpencil. Kisah Mina dan ibu-ibu lainnya jadi bukti bahwa kehadiran tim medis bukan hanya soal pemeriksaan, tapi juga merangkul dan menguatkan kebersamaan. Lewat program ini, setiap bayi dan ibu hamil di pelosok negeri tetap mendapatkan hak kesehatannya.

Di sudut-sudut desa terpencil Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, suara tangis bayi dan tawa ibu-ibu muda bergema di lima desa yang selama ini nyaris tak tersentuh layanan kesehatan. Bukan pesta, melainkan kehadiran tim kesehatan TNI dari Kodam XII/Tanjungpura yang menggelar posyandu keliling. Dengan peralatan medis sederhana yang dibawa dalam ransel dan kotak kayu, mereka menyusuri jalan setapak berlumpur dan sungai kecil untuk menjangkau warga. Ibu-ibu muda berjalan cepat membawa bayi mereka, wajah mereka sumringah—ada yang datang dari dusun seberang bukit, ada pula yang menumpang perahu kayu selama satu jam. Inilah potret nyata perjuangan menghadirkan kesehatan di pelosok negeri.

Mina dan Harapan Baru di Desa Nanga Mau

Mina (24), seorang ibu muda dari Desa Nanga Mau, duduk di atas tikar plastik sambil menggendong bayinya yang baru berusia 6 bulan. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan betapa sulitnya mendapatkan layanan kesehatan di kampungnya. “Biasanya kalau mau timbang bayi, saya harus ke puskesmas yang jaraknya tiga jam naik perahu. Kadang nggak jadi karena biaya sewa perahu terlalu mahal,” katanya lirih. Hari itu, Mina mendapat kejutan: bayinya bisa ditimbang, diimunisasi, dan mendapatkan vitamin gratis. “Saya senang sekali, rasanya seperti ada saudara yang peduli,” ucapnya sambil mencium kening bayinya yang mulai tersenyum. Tim TNI tidak hanya datang dengan alat medis, tetapi juga membawa semangat gotong royong. Mereka mengajari para ibu cara membuat makanan bergizi dari bahan lokal seperti ubi dan ikan sungai.

Dekat di Hati, Kuat di Ranting

Manfaat program posyandu keliling ini langsung terasa oleh warga. Berikut adalah dampak yang dirasakan:

  • Pemeriksaan kesehatan gratis untuk ibu hamil dan balita, termasuk imunisasi dasar dan vitamin A.
  • Edukasi gizi berbasis kearifan lokal—menggunakan bahan seperti pisang, singkong, dan ikan patin yang mudah didapat.
  • Bantuan makanan tambahan berupa biskuit dan susu untuk anak dengan gizi buruk.
  • Kunjungan rutin setiap bulan ke lima desa target yang didampingi kader setempat.

Program ini bukan sekadar tugas, melainkan wujud cinta tanah air yang nyata. Letnan Satu CKM Agus, dokter militer yang memimpin tim, menceritakan bahwa setiap desa memiliki cerita unik. Di Desa Bakong, misalnya, para ibu rela berjalan kaki dua jam melewati hutan hanya untuk membawa anak mereka ke posko kesehatan. “Kami tidak ingin siapa pun tertinggal. Setiap bayi dan ibu hamil berhak mendapatkan kesehatan, di mana pun mereka berada,” tegasnya. Kehangatan terasa saat tim berpamitan—warga menyalami, memberi oleh-oleh buah hutan, dan berjanji akan terus menjaga kesehatan.

Kisah Mina dan ibu-ibu lainnya adalah bukti bahwa posyandu keliling yang diinisiasi TNI di Kalimantan bukan hanya soal angka dan target, melainkan tentang kehadiran yang menguatkan rasa kebersamaan. Di tengah keterbatasan akses dan jarak, kehadiran mereka seperti pelita di tengah kegelapan—menerangi harapan, menguatkan ikatan, dan mengingatkan kita semua bahwa tidak ada yang terlalu jauh untuk dijangkau oleh kebaikan.

Posyandu keliling TNI kesehatan ibu hamil dan balita gizi buruk
Terkait
  • Topik: Posyandu keliling TNI, kesehatan ibu hamil dan balita, gizi buruk
  • Tokoh: Letnan Satu CKM Agus, Mina
  • Organisasi: TNI, Kodam XII/Tanjungpura, puskesmas
  • Tempat: Kalimantan, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat

Artikel terkait