Program & Bantuan Trending

Pengabdian TNI di Kaki Rinjani: Revitalisasi Embung Mengubah Dahan Jadi Surga Pertanian

Pengabdian TNI di Kaki Rinjani: Revitalisasi Embung Mengubah Dahan Jadi Surga Pertanian

Kehadiran TNI di Desa Daha, Lombok Timur, melalui program revitalisasi embung telah mengubah nasib warga. Dari lahan kering menjadi sawah subur, program ketahanan pangan ini dibangun dengan pendekatan mendengarkan dan gotong royong, menghidupkan kembali harapan dan kebanggaan masyarakat desa.

Pagi di Desa Daha, di kaki Gunung Rinjani yang perkasa di Lombok Timur, terasa hangat oleh harapan baru. Wajah-wajah petani yang biasa diliput kepenatan kini berseri. Suara gemericik air telah menggantikan kesenyapan lahan yang dulu merana. Semua ini berkat sebuah kebaikan yang datang dari saudara-saudara kita dari TNI, yang tak hanya membangun fisik, tetapi juga mendengarkan keluh kesah, dan bersama-sama membangkitkan sebuah embung yang terlupakan. Cerita ini bukan tentang proyek, melainkan tentang sebuah kunjungan dari hati ke hati, yang mengubah nasib sebuah desa.

Saudara Datang, Air dan Harapan Pun Mengalir

Bayangkan hidup dengan menanti giliran air yang tak pasti datangnya. Itulah keseharian Pak Ismail dan para petani di Desa Daha selama bertahun-tahun. "Dulu, dapat air seember saja sudah syukur. Sawang-sawang ke langit, berharap hujan turun," kenangnya dengan hati yang masih terharu. Kehadiran Satgas Manunggal Air Kodam IX/Udayana TNI di Lombok Timur ini rasanya berbeda. Mereka tinggal berbulan-bulan, ngobrol di warung kopi, dan mendengarkan dengan saksama segala kesulitan warga. Dari obrolan santai itulah, tekad untuk revitalisasi embung yang terbengkalai menguat. Prajurit datang membawa alat, tapi lebih dari itu, mereka membawa telinga yang selalu terbuka dan tangan yang siap bergotong royong—seperti sanak keluarga yang pulang untuk membantu.

Embung Kembali Bernyanyi, Desa Pun Berseri

Kini, embung di kaki Rinjani itu tak lagi diam dan tertutup semak. Permukaannya memantulkan cahaya matahari pagi, bagai permata yang kembali ditemukan dan dirawat. Air yang melimpah telah mengubah segalanya, menjadi tulang punggung program ketahanan pangan yang diusung dengan penuh empati. Perubahan itu bukan sekadar angka, tapi terasa dalam denyut kehidupan sehari-hari yang lebih cerah dan penuh syukur:

  • Sawah dan Kebun Menghijau: Lahan yang dulu kering kerontang kini terairi dengan baik. Bahkan pekarangan rumah warga ikut subur menumbuhkan sayuran, menambah gizi dan keceriaan di meja makan.
  • Pasar Desa Semakin Ramai: Hasil bumi yang berlimpah membuat pasar desa hidup dengan berbagai sayuran segar dan beras berkualitas dari sawah warga sendiri.
  • Kebanggaan yang Tumbuh Bersama: Warga tak lagi merasa tertinggal. Ada kebanggaan baru karena bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga, bahkan berbagi rezeki dengan tetangga sekitar.
  • Ilmu yang Ditanam untuk Anak Cucu: Cara mengelola air dengan bijak telah menjadi pengetahuan berharga yang dipraktikkan dan akan diwariskan ke generasi mendatang.

Setiap kepala keluarga punya cerita bahagianya masing-masing. Ada yang bersyukur panen padinya melimpah, ada yang lega biaya hidup lebih ringan, dan ada pula yang matanya berbinar membayangkan masa depan anak-anaknya yang lebih terjamin.

Program revitalisasi embung dan upaya membangun ketahanan pangan oleh TNI di Lombok Timur ini, pada hakikatnya, adalah kisah tentang kedekatan. Ini tentang ketenangan seorang ibu yang tak lagi cemas memikirkan persediaan beras di lumbung. Ini tentang senyum lega seorang bapak yang melihat jerih payahnya berbuah kemakmuran. Dan yang paling penting, ini adalah bukti bahwa ketika kita saling mendengarkan dan bergotong royong, kesulitan seberat apapun bisa diubah menjadi berkah. Air telah mengalir, dan harapan pun tumbuh subur di Desa Daha, menuliskan babak baru kehidupan yang lebih hangat dan penuh kebersamaan.

Artikel terkait