Pagi itu, mentari mulai menyapa perkampungan di Sumba Timur dengan hangatnya. Suara riuh rendah terdengar dari sebuah lapangan kecil, tempat mobil klinik putih berlogo puskesmas berhenti. Di antara kerumunan, tampak Pak Laoli (78) berdiri dengan sabar, memegang kartu berobat lusuh. Wajahnya yang keriput merekah senyum—pagi ini bukan sekadar pagi biasa, melainkan pagi yang selama bertahun-tahun ia impikan. Layanan kesehatan akhirnya datang menjemput, bukan lagi ia yang harus berjalan berjam-jam untuk mendapatkannya.
Enam Jam Berjalan Kini Berganti dengan Dua Minggu Sekali
Bupati Sumba Timur bersama Kodim 1601 dan Dinas Kesehatan setempat baru saja meresmikan program Puskesmas Keliling yang akan menjangkau 15 desa terisolasi. Mobil klinik ini bukan kendaraan biasa. Di dalamnya tersedia peralatan medis dasar dan tenaga dokter yang siap melayani warga. Program ini adalah wujud nyata perhatian pemerintah terhadap kesehatan desa-desa yang selama ini sulit dijangkau. Dulu, warga harus berjalan kaki hingga enam jam menuju ibu kota kecamatan untuk berobat. Enam jam yang terasa lebih panjang ketika tubuh sedang sakit, anak menangis, atau orang tua kelelahan. Pak Laoli sendiri pernah merasakan sakit gigi selama seminggu karena tak sempat ke puskesmas. Sekarang, dengan adanya puskesmas keliling setiap dua minggu sekali, ia bisa berobat tanpa harus meninggalkan sawah dan ladang. "Alhamdulillah, sekarang saya tidak perlu jalan jauh lagi," ujarnya sambil memegang pundak Babinsa yang setia menemani.
Babinsa Joko: Lebih dari Sekadar Tugas, Ini Panggilan Hati
Di balik program ini, ada sosok akrab yang tak asing bagi warga. Sersan Dua Joko, Babinsa setempat, hadir dalam peresmian dan langsung berjanji membantu sosialisasi. Ia bahkan menyediakan kendaraan TNI untuk mengantar-jemput warga lansia. "Kami akan antar-jemput warga lansia," ujarnya tegas namun penuh kehangatan. Bagi warga, Pak Joko bukan sekadar aparat, melainkan bagian dari keluarga besar desa. Ia tahu betul kondisi jalan berbatu, rumah-rumah panggung, dan kebutuhan mendasar warga yang selama ini terabaikan. Program puskesmas keliling ini membawa manfaat yang langsung dirasakan, antara lain:
- Warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan enam jam untuk mendapatkan perawatan medis.
- Peralatan medis dasar dan tenaga dokter hadir langsung di desa-desa terisolasi.
- Warga lansia dan rentan bisa dijemput menggunakan kendaraan TNI oleh Babinsa.
- Layanan kesehatan rutin tersedia setiap dua minggu sekali, bukan hanya saat terjadi darurat.
Program ini adalah sinergi antara TNI dan pemerintah daerah dalam meningkatkan akses kesehatan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Pemerintah Sumba Timur tidak sendiri; TNI ikut hadir mengawal hingga ke pelosok. Gotong royong antara pemerintah, TNI, dan warga menjadi kunci utama. Di desa-desa yang selama ini terisolasi, kehadiran puskesmas keliling adalah bukti bahwa tidak ada satu pun anak desa yang benar-benar terlupakan.
Matahari semakin tinggi, antrean warga di depan mobil puskesmas makin ramai. Pak Laoli sudah selesai diperiksa dan berjalan pulang dengan senyum tak pernah pudar. Dari kejauhan, ia melambai kepada Babinsa Joko yang sibuk memandu warga lansia naik ke kendaraan TNI. Di Sumba Timur, layanan kesehatan bukan hanya tentang obat dan dokter—ia tentang kedekatan, tentang kegotongroyongan yang lahir dari hati. Semoga program puskesmas keliling ini terus berjalan dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia. Karena setiap warga desa berhak hidup sehat tanpa harus berjalan enam jam.