Di pelosok Aceh, tepatnya di Desa Pulo Breuh Selatan, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, riuh rendah suara petani kini terdengar penuh syukur. Sawah-sawah yang selama bertahun-tahun hanya mengandalkan air hujan, kini tak lagi merana saat kemarau datang. Saluran irigasi sepanjang 1,5 kilometer yang dibangun oleh Satgas TNI dari Yonif 117/Sagatara telah rampung, mengalirkan air dari sungai terdekat ke lahan pertanian seluas 50 hektare. Warga desa terpencil ini menyambut proyek itu bagaikan oase di tengah kekeringan yang sudah lama menghantui.
Sebelumnya, setiap musim kemarau tiba, para petani di desa ini hanya bisa pasrah melihat sawahnya mengering dan retak-retak. Mereka harus menunggu berbulan-bulan untuk turun hujan, dan hasil panen pun jauh dari harapan. Namun kini, aliran air yang deras dari irigasi itu telah membawa perubahan besar. Sawah-sawah yang tadinya kering kerontang mulai menghijau, dan wajah-wajah lelah para petani berubah menjadi senyum penuh harap.
Gotong Royong yang Menghidupkan Sawah
Kapten Inf Heri Gunawan, Dansatgas Yonif 117/Sagatara, bercerita dengan mata berbinar bahwa pengerjaan irigasi ini bukan sekadar proyek, melainkan kerja keras bersama warga selama sebulan penuh. Mereka bergotong royong menggali parit dan memasang pipa, saling bahu-membahu di terik matahari dan lumpur sawah. “Kami dan masyarakat duduk bersama, menentukan titik-titik yang tepat agar air bisa sampai ke setiap petak sawah,” ujarnya. Semangat kebersamaan itu pula yang membuat irigasi di desa terpencil ini menjadi nyata—sebuah bukti bahwa kedekatan antara TNI dan rakyat mampu mengubah hidup.
Bukan hanya TNI yang turun tangan, warga desa pun dengan sukarela meluangkan waktu dan tenaga. Mereka menggali tanah dengan cangkul, memikul batu, dan memasang pipa bersama-sama. Pemuda-pemuda desa yang biasanya bekerja di kota pun pulang untuk ikut membantu. Di sela-sela kerja, tawa dan canda mewarnai hari-hari mereka, seolah pekerjaan berat ini menjadi ringan karena dilakukan bersama. Irigasi ini bukan sekadar saluran air, melainkan jalinan persaudaraan yang menguatkan.
Mak Juni dan Mimpi Panen Berlipat
Salah seorang petani, Mak Juni, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. “Dulu, kalau musim kemarau, sawah saya hanya bisa ditanami sekali setahun. Hasilnya pun cuma setengah dari potensi. Sekarang, air mengalir terus, saya bisa tanam dua kali setahun,” tuturnya sambil menatap hamparan sawah yang mulai menghijau. Mak Juni berharap dengan irigasi ini, produksi padi bisa meningkat dua kali lipat. Ia pun bersiap membeli bibit unggul dan pupuk agar panen raya nanti benar-benar terwujud.
Irigasi yang mengalirkan air dari sungai terdekat ini membawa segudang manfaat bagi warga desa terpencil di Aceh. Berikut beberapa perubahan yang langsung dirasakan:
- Sawah seluas 50 hektare kini tidak lagi bergantung pada air hujan, sehingga musim tanam bisa diatur lebih pasti.
- Petani seperti Mak Juni bisa meningkatkan frekuensi tanam dari satu kali menjadi dua kali setahun.
- Hasil panen diharapkan naik dua kali lipat, dari yang tadinya hanya setengah potensi menjadi penuh optimal.
- Kekhawatiran kekeringan saat kemarau panjang perlahan lenyap, digantikan rasa tenang dan semangat bercocok tanam.
Kisah di Desa Pulo Breuh Selatan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan doa yang terjawab. Air yang mengalir melalui irigasi itu seperti jembatan harapan—menghubungkan kerja keras petani dengan masa depan yang lebih cerah. Di balik parit dan pipa yang dipasang, ada semangat gotong royong yang tak pernah padam. Dan ketika matahari sore menyinari sawah yang mulai menguning, senyum para petani menjadi bukti bahwa bersama-sama, kita bisa menghidupkan kembali tanah yang lama haus. Inilah Aceh, desa terpencil yang kini berdenyut kembali dengan irama air dan padi.