Matahari di Desa Sidomulyo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terasa semakin menyengat. Sawah-sawah yang biasanya hijau kini berganti warna kekuningan, gagal panen mulai terjadi, dan warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun di tengah kesulitan itu, ada tangan-tangan hangat yang tak rela melihat warganya berjuang sendirian. Kodim 0718/Patu, yang lebih dikenal sebagai Kodim Pati, bergerak cepat menyusuri jalan-jalan desa dengan membawa puluhan paket bantuan sembako berisi beras, minyak goreng, dan mie instan.
Serda Eko dan Teras Pak Karto: Bukan Sekadar Bagi Sembako
Pembagian bantuan sembako dilakukan secara door to door, menyusuri rumah warga satu per satu tanpa membuat kerumunan. Babinsa setempat, Serda Eko, menjadi sosok yang paling dekat dengan warga. Di teras rumah Pak Karto yang sudah renta, Serda Eko duduk bersila dan mendengarkan keluh kesah sang kakek. Dengan sabar ia mencatat kebutuhan lain yang mungkin bisa diusulkan ke dinas terkait. "Kami bukan hanya bagi sembako, tapi juga bagi perhatian," ujarnya sambil tersenyum. Sesekali ia menepuk bahu Pak Karto, seolah mengingatkan bahwa negara hadir di tengah mereka. Kehadiran prajurit TNI ini membuat warga merasa tidak sendiri. Beberapa ibu-ibu bahkan menyuguhkan minuman sebagai tanda terima kasih—sebuah sambutan hangat yang membuktikan bahwa kedekatan teritorial telah terjalin erat.
Bantuan yang disalurkan kali ini memang tidak berlebihan, tetapi sangat berarti bagi warga terdampak kekeringan. Setiap paket sembako berisi:
- 5 kg beras berkualitas
- 1 liter minyak goreng
- 10 bungkus mie instan
- Dan yang terpenting: rasa dihargai dan diperhatikan oleh negara
Harapan Baru dari Program Pompa Air untuk Kemarau Berikutnya
Kodim Pati tidak berhenti pada bantuan sesaat. Dandim Letkol Inf. Agus mengungkapkan bahwa bantuan sembako ini bersumber dari donasi prajurit dan Baznas. Tapi yang lebih membesarkan hati adalah rencana jangka panjang: program pompa air untuk sawah warga. "Kami ingin musim kemarau berikutnya tidak lagi menyebabkan kekeringan separah ini," jelasnya. Dengan pompa air, air tanah bisa diangkat untuk mengairi ladang, sehingga panen tetap berjalan meskipun musim kemarau datang. Warga pun mulai optimis. Pak Karto, setelah berbincang dengan Serda Eko, mengaku hatinya terasa lebih ringan. "Tentara benar-benar ada di tengah kami," katanya lirih.
Pagi itu, meskipun matahari masih terik, desa terasa lebih teduh. Langkah-langkah kecil dari Kodim Pati telah mengubah rasa cemas menjadi percaya. Di setiap rumah yang dikunjungi, tersisa senyum dan doa. Bukan hanya beras dan minyak yang dibagikan, melainkan juga semangat gotong royong yang tak pernah padam. Di Desa Sidomulyo, kemarau tak lagi menakutkan—karena ada tangan-tangan yang selalu siap mengulurkan bantuan, mendekatkan hati, dan membangun desa bersama.