Suasana di Desa Tegalrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, pagi itu benar-benar beda dari biasanya. Derap langkah warga berbaju batik dan seragam hijau loreng memenuhi lapangan desa, menciptakan harmoni yang jarang terlihat. Tepuk tangan dan sorak gembira pecah saat Komandan Kodim 0808 Blitar, Letkol Inf. Rio Kurniawan, secara resmi memotong pita peresmian embung air yang sudah lama ditunggu-tunggu. Buat para petani setempat, momen ini bukan sekadar acara seremoni—ini adalah awal dari harapan baru yang selama ini mereka impikan di tengah kesulitan air.
Embung Air, Jawaban untuk Sawah yang Merindu Air
Selama bertahun-tahun, sawah tadah hujan di Desa Tegalrejo hanya bisa panen sekali dalam setahun. Ketika musim kemarau tiba, tanah pecah-pecah dan padi gagal tumbuh, meninggalkan petani dalam kecemasan. Namun kini, hadirnya embung berkapasitas 10.000 meter kubik yang dibangun selama dua bulan oleh TNI bersama masyarakat menjadi penawar dahaga sawah-sawah itu. Embung ini menampung air hujan dan siap mengairi lahan pertanian seluas 200 hektare, sehingga petani bisa menanam padi dua hingga tiga kali setahun. Tak heran, rasa syukur membuncah di hati para petani. Pak Slamet, ketua kelompok tani setempat, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya: "Ini hadiah besar bagi kami. Sawah tidak akan kering lagi. Kami sekarang punya harapan untuk meningkatkan hasil panen," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Gotong Royong TNI dan Masyarakat: Satu Jiwa untuk Ketahanan Pangan
Peresmian ini bukan sekadar seremoni, melainkan puncak dari kerja keras dua bulan yang penuh kebersamaan. Para prajurit TNI dari Kodim 0808 Blitar bahu-membahu dengan warga desa mengeruk tanah, memasang batu, dan membangun saluran irigasi. Letkol Inf. Rio Kurniawan menegaskan, pembangunan embung air ini merupakan bagian dari program ketahanan pangan nasional yang ingin dirasakan langsung oleh masyarakat. "Kami tidak ingin hanya seremonial, tetapi manfaat langsung dirasakan warga. Gotong royong ini menunjukkan TNI dan rakyat satu jiwa," katanya dengan penuh semangat. Berikut adalah manfaat yang kini bisa dinikmati para petani Desa Tegalrejo:
- Sawah tidak lagi bergantung pada hujan, sehingga risiko gagal panen saat kemarau berkurang drastis.
- Frekuensi tanam meningkat dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali setahun, yang berarti pendapatan petani berlipat ganda.
- Ketersediaan air yang stabil membantu pertumbuhan padi lebih optimal dan hasil panen lebih melimpah.
- Kegiatan gotong royong membangun embung mempererat hubungan kekeluargaan antara warga dan TNI.
Kedekatan antara TNI dan warga memang terasa nyata sepanjang proses pembangunan. Warga tak segan mengangkat alat berat, kaum ibu menyiapkan makanan untuk para pekerja, dan anak-anak ikut membawa air minum. Semua bersatu dalam satu tujuan: menghadirkan sumber air yang menjadi urat nadi pertanian. Inilah bukti bahwa ketika TNI dan rakyat bergandengan tangan, tidak ada yang mustahil. Dengan embung air ini, sawah Blitar tak lagi merindu air, dan harapan petani pun kembali bersemi.