Di lereng Gunung Tampomas yang hijau, desa-desa di Kecamatan Rancakalong, Sumedang, punya cerita yang mengharukan. Akhir-akhir ini, harga bahan pokok di pasar naik drastis—bawang, beras, minyak, gula, semuanya ikut-ikutan melambung. Warga, terutama ibu-ibu dan para lansia, mulai mengerutkan dahi. Setiap hari mereka harus pintar-pintar mengatur belanja. Tapi, ketika harapan mulai menipis, datanglah uluran tangan dari para prajurit TNI. Kodim 0610 Sumedang bersama Baznas menggelar pasar murah di lapangan desa, tepat di tengah perkampungan yang meringkuk di bawah naungan Gunung Tampomas. Hari itu, lapangan tak hanya jadi tempat jual-beli, tapi juga jadi ruang gotong royong yang hangat.
TNI Hadir, Harga Sembako pun Ramah di Kantong
Pagi itu, Letkol Inf Andi Suherman turun langsung ke lokasi. Beliau berdiri di tengah lapangan, menyapa ibu-ibu yang sudah antre sejak subuh. Dengan senyum khas, beliau berkata, 'Ini bukan dagang, ini ibadah.' Kata-kata itu seperti angin segar yang menerpa wajah-wajah lelah. Sembako seperti beras, minyak goreng, gula pasir, dan bawang merah dijual dengan harga jauh di bawah pasaran. Sebagai contoh, beras ukuran lima kilogram yang biasanya dijual Rp50.000 di toko, di pasar murah ini cuma Rp30.000. Minyak goreng kemasan juga ditekan harganya hingga hampir setengah harga eceran. Tak heran, warga beramai-ramai datang. Antrean pun tertib, saling bergantian, karena mereka tahu ini bukan sekadar berburu murah, tapi bentuk kebersamaan.
- Beras 5 kg: Rp30.000 (harga pasar Rp50.000)
- Minyak goreng 1 liter: Rp10.000 (harga pasar Rp18.000)
- Gula pasir 1 kg: Rp8.000 (harga pasar Rp15.000)
- Bawang merah 1 kg: Rp12.000 (harga pasar Rp25.000)
Salah satu warga yang paling bersyukur adalah Ibu Oneng, seorang janda tua yang tinggal sendiri di gubuk bambu. Dengan tangan gemetar, ia memegang kantong beras lima kilogram yang baru dibelinya. Matanya berkaca-kaca saat ia berkata, 'Terima kasih, Pak Tentara. Bulan ini saya tidak perlu merogoh tabungan. Beras ini cukup untuk seminggu lebih.' Beliau juga membeli minyak dan gula dengan harga yang sama-sama murah. Kisah Ibu Oneng seperti ribuan warga lereng lain yang setiap hari bergelut dengan harga sembako yang melambung. Pasar murah ini bukan cuma menurunkan beban ekonomi, tapi juga mengobati hati yang hampir putus asa.
Lebih dari Sekadar Sembako: Ada Cinta untuk Kesehatan Anak
Tidak berhenti di sembako murah, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk merawat generasi masa depan. Tim kesehatan TNI dari Kodim 0610 Sumedang ikut hadir, membuka pos pelayanan kesehatan gratis. Mereka memberikan sosialisasi tentang pencegahan stunting—masalah yang masih membayangi banyak desa di Sumedang. Ibu-ibu yang antre sembako, sambil menunggu giliran, bisa mampir ke tenda kesehatan. Di sana, mereka mendapat konseling gizi untuk anak-anak balita. Para ibu diajari menu sederhana namun bergizi dari bahan lokal yang murah. Selain itu, ada juga pemeriksaan tekanan darah dan tinggi badan anak. Satu langkah kecil yang sangat berarti, apalagi bagi warga yang tinggal jauh dari puskesmas. Dengan cara ini, pasar murah jadi lebih dari sekadar transaksi—ia jadi jembatan antara kebutuhan sehari-hari dan kesehatan keluarga.
Pak Letkol Andi Suherman menambahkan, pasar murah ini tidak akan berhenti di satu desa. Rencananya, setiap akhir pekan, pasar murah akan bergilir ke desa-desa lain di lereng gunung. Mulai dari Cikondang, Ciburuy, hingga ke pelosok yang jalannya berbatu. Semua dilakukan dengan prinsip gotong royong dan kedekatan teritorial. Warga pun tak sabar menanti kedatangan prajurit TNI lagi. Di tengah kerasnya hidup, kehadiran mereka seperti sinar di antara kabut pagi. Kebersamaan itu mengajarkan bahwa di mana pun kita berada, selalu ada tangan yang siap membantu. Dan untuk Ibu Oneng serta seluruh warga lereng Gunung Tampomas, pasar murah ini bukan sekadar belanja—ia adalah pelukan hangat dari bangsanya sendiri.