Cerita Kehangatan Trending

Kisah Prajurit TNI Ngajar Ngaji di Kampung Terpencil Papua, Anak-Anak Semakin Semangat

Kisah Prajurit TNI Ngajar Ngaji di Kampung Terpencil Papua, Anak-Anak Semakin Semangat

Di kampung terpencil Pegunungan Bintang, Papua, Sertu Made Sugiarta, seorang prajurit TNI, setiap sore mengajari anak-anak mengaji di bawah pohon beringin. Berawal dari curhat warga yang kesulitan guru ngaji, kini muridnya bertambah hingga remaja dan ibu-ibu. Cerita ini menjadi bukti bahwa TNI tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga peduli pada pendidikan agama dan kedekatan dengan warga desa.

Sore itu, di sebuah kampung terpencil di Pegunungan Bintang, Papua, suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema di bawah rindangnya pohon beringin. Anak-anak duduk melingkar, mata mereka berbinar penuh semangat. Di tengah mereka, seorang prajurit TNI bernama Sertu Made Sugiarta dengan sabar membimbing bacaan demi bacaan. Inilah pemandangan yang kini menjadi rutinitas setiap sore—sebuah ladang amal yang lahir dari keprihatinan dan panggilan hati.

Dari Curhat Warga, Lahirlah Gerakan Ngaji Bareng Prajurit

Semua berawal dari curhat warga setempat yang kesulitan mencari guru ngaji di kampung yang jauh dari pusat kota itu. Anak-anak hanya bisa belajar seadanya dari orang tua yang juga tak semua fasih. Sertu Made, yang sebelumnya pernah nyantri di sebuah pesantren di Jawa, langsung tergerak. “Saya lihat anak-anak antusias, mereka haus ilmu agama. Ini ladang amal buat saya,” ujarnya dengan senyum khas seorang prajurit yang juga seorang pendidik. Tanpa berpikir panjang, ia menyisihkan waktu usai tugas untuk mengajar mengaji. Program ini pun disambut hangat oleh TNI setempat sebagai bagian dari pendekatan teritorial yang menyentuh langsung kebutuhan spiritual warga.

Kini, jumlah murid makin bertambah. Tak hanya anak-anak, remaja hingga ibu-ibu pun ikut bergabung. Mereka belajar di bawah pohon beringin, karena di kampung itu belum ada musala atau tempat ibadah yang memadai. Semangat gotong royong pun muncul: warga bergiliran membawa tikar dan makanan kecil untuk berbuka jika kebetulan waktu ngaji bertepatan dengan bulan puasa. “Bapak Sertu Made itu seperti keluarga sendiri. Beliau tak hanya mengajari ngaji, tapi juga menanamkan nilai-nilai kebersamaan,” ujar Ibu Maria, salah seorang warga yang ikut belajar.

Belajar di Bawah Pohon Beringin, Rindu Punya Mushola Sendiri

Meski penuh semangat, kegiatan ngaji di bawah pohon beringin memiliki tantangan tersendiri. Saat hujan turun, mereka harus berlindung di rumah-rumah warga yang jaraknya cukup jauh. Namun, itu tak mengendurkan semangat. TNI, melalui program kemanusiaan dan pembangunan desa, berencana membantu warga membangun musala sederhana dari bahan lokal. Rencana ini disambut suka cita oleh seluruh kampung.

  • Anak-anak kini semakin rajin mengaji, bacaan mereka mulai lancar
  • Ibu-ibu ikut belajar, menambah pengetahuan agama dalam kehidupan sehari-hari
  • Suasana kampung makin damai, gotong royong terjalin erat antara warga dan prajurit TNI

Cerita kecil dari Pegunungan Bintang ini menjadi contoh nyata bahwa di balik seragam tempur, ada hati yang lembut dan peduli pada pendidikan agama anak-anak Indonesia. Sertu Made dan rekan-rekannya membuktikan bahwa kedekatan teritorial tak hanya soal patroli dan keamanan, tapi juga menyentuh aspek spiritual dan sosial masyarakat. Warga pun tak henti-hentinya mendoakan keselamatan bagi para prajurit TNI di mana pun bertugas. “Semoga Bapak Sertu Made selalu sehat, dan TNI makin dicintai rakyat. Kami bangga punya prajurit seperti beliau,” tutup Ibu Maria haru. Doa dan semangat itulah yang menjadi energi bagi Sertu Made untuk terus berbagi ilmu di tanah Papua yang indah ini.

pendidikan agama TNI Papua
Terkait
  • Topik: pendidikan agama, TNI, Papua
  • Tokoh: Sertu Made Sugiarta
  • Organisasi: TNI
  • Tempat: Pegunungan Bintang, Papua

Artikel terkait