Malam itu, angin kencang disertai hujan deras mengguncang Desa Cibitung. Di sebuah gubuk reot di ujung kampung, Nenek Rukoyah (67) terbangun karena atap rumahnya mulai berderak. Belum sempat ia beranjak, dinding bambu ambruk dan atap seng beterbangan. Rumah satu-satunya yang selama puluhan tahun menjadi tempat berteduh, rubuh dalam sekejap. Beruntung, Nenek Rukoyah selamat—hanya dengan luka ringan di kaki. Namun, hatinya hancur: ia kehilangan tempat tinggal, tak punya keluarga yang bisa diandalkan, hanya sendirian di usia senja.
Kisah Pilu yang Menggerakkan Hati
Kabar rumah roboh itu cepat menyebar. Beberapa tetangga datang membantu Nenek Rukoyah mendirikan tenda darurat dari terpal bekas. Namun, bayangan malam yang dingin dan rasa takut tinggal sendirian di bawah tenda membuat bulu kuduk merinding. "Saya cuma bisa pasrah, Mas. Semoga ada yang peduli," ucap Nenek Rukoyah lirih saat ditemui warga. Tak butuh waktu lama, berita itu sampai ke telinga Lettu Rendra, Danramil setempat. Mendengar kondisi nenek, ia langsung tergerak. "Kami tidak tega melihat nenek tidur di tenda darurat. Mari bantu, Bapak Ibu semua," ajaknya kepada prajurit dan warga desa.
Keesokan harinya, puluhan prajurit TNI berdatangan ke lokasi dengan perlengkapan sederhana. Warga desa pun ikut bergotong royong—mengumpulkan bambu, seng bekas, dan kayu-kayu sisa proyek. Semua bergerak dengan semangat kebersamaan. Bukan hanya membangun rumah, tapi juga membangun kembali harapan seorang nenek yang hampir putus asa.
Gotong Royong yang Menyatukan TNI dan Warga
Berikut beberapa hal yang dilakukan dalam aksi nyata ini:
- Prajurit TNI dari Koramil setempat bekerja bahu-membahu membersihkan puing-puing rumah dan merancang ulang fondasi yang kokoh.
- Warga desa menyumbang material bangunan, seperti bambu, seng, paku, dan triplek. Tak sedikit yang membawa makanan dan minuman untuk para relawan.
- Dalam waktu hanya tiga hari, rumah sederhana namun layak huni berhasil berdiri. Dinding anyaman bambu, atap seng baru, dan lantai yang sudah diperbaiki.
- Nenek Rukoyah kini memiliki tempat berteduh yang aman dan nyaman, lengkap dengan dapur kecil serta kamar tidur yang bersih.
Ketika rumah selesai, Nenek Rukoyah tak kuasa menahan tangis haru. Dengan suara bergetar, ia mengucap syukur. "Terima kasih, Pak Tentara. Terima kasih, tetangga-tetanggaku. Allah pasti membalas kebaikan kalian," ucapnya sambil memeluk Lettu Rendra. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian sosial TNI tidak hanya dalam program besar, tapi juga aksi nyata untuk warga yang paling membutuhkan—terutama di pelosok desa.
Kerobohan rumah Nenek Rukoyah mungkin hanya peristiwa kecil di mata banyak orang, tapi bagi warga Desa Cibitung, ini adalah pelajaran berharga tentang gotong royong dan rasa kemanusiaan. Di tengah kesibukan masing-masing, masih ada tangan-tangan yang siap menolong, masih ada hati yang peduli. Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk selalu menjalin kebersamaan, tanpa memandang pangkat atau status. Karena, secercah kebaikan bisa menjadi pelita di tengah gelapnya duka.