Cerita Kehangatan Trending

Kisah Marbot Masjid di Perbatasan yang Jadi Relawan TNI Salurkan Bantuan ke Desa Terisolir

Kisah Marbot Masjid di Perbatasan yang Jadi Relawan TNI Salurkan Bantuan ke Desa Terisolir

Kisah Pak Hamid, seorang marbot masjid di perbatasan, yang menjadi relawan TNI untuk menyalurkan bantuan ke desa terisolir Sebunga. Dengan sukarela, ia memandu prajurit melewati medan berat dan berkomunikasi dengan warga setempat. Semangat gotong royong ini membuktikan bahwa di ujung negeri, masih ada tangan-tangan hangat yang siap berbagi dan menguatkan.

Di ujung negeri, tepatnya di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, ada sebuah desa bernama Sebunga. Desa ini berbatasan langsung dengan Malaysia dan hanya bisa diakses lewat jalan setapak serta sungai. Kalau musim hujan tiba, akses benar-benar putus total. Jalanan licin, sungai meluap, dan warga merasa terisolir dari dunia luar. Namun, di tengah keterbatasan itu, ada secercah harapan yang datang dari para prajurit TNI Satgas Pamtas Yonif 641/Bru. Mereka bertekad menyalurkan bantuan ke desa terisolir ini, meskipun harus berhadapan dengan medan yang berat. Tapi satu kendala muncul: siapa yang tahu medan setempat? Di sinilah kisah seorang marbot masjid menjadi cahaya penuntun.

Pak Hamid, Marbot yang Jadi Relawan Penuntun di Medan Berat

Pak Hamid (52), marbot Masjid Al-Muhajirin di Entikong, tak ragu mengangkat tangan. Dengan sukarela, ia menjadi relawan dan pemandu bagi para prajurit TNI. Setiap hari, ia ikut mendayung perahu karet, memanggul karung beras, dan berjalan kaki hingga tiga jam melewati hutan lebat. “Saya kenal setiap jalan tikus di sini. Kalau tidak ada yang bantu, bantuan bisa enggak sampai. Ini ladang ibadah bagi saya,” ujarnya dengan senyum bersahaja. Pak Hamid bukan sekadar penunjuk jalan, tetapi juga jembatan komunikasi antara TNI dan warga. Ia berbicara dalam bahasa daerah setempat, membuat warga semakin percaya dan nyaman.

Bantuan yang Menyentuh Hati: Sembako, Buku, dan Vaksinasi

Berkat kerja sama Pak Hamid dan para prajurit, bantuan akhirnya tiba di desa Sebunga. Letnan Dua (Inf) Reza Permana, Komandan Pos, bersyukur memiliki relawan seperti Pak Hamid. “Beliau tidak hanya mengantar, tapi juga membantu berkomunikasi dengan warga. Warga jadi lebih percaya. Kami berharap kerja sama seperti ini terus terjalin,” katanya. Berikut rincian bantuan yang disalurkan dan dampaknya bagi warga:

  • 100 paket sembako — membantu kebutuhan sehari-hari warga yang selama ini kesulitan mendapatkan bahan pangan.
  • 50 paket perlengkapan sekolah — berisi buku, pensil, dan tas, yang membuat anak-anak kembali semangat belajar.
  • Vaksinasi hewan ternak — menjaga kesehatan sapi dan kambing milik warga, yang menjadi sumber penghidupan utama mereka.

Warga desa sangat terbantu, terutama anak-anak yang kini bisa kembali belajar dengan buku baru. Tawa dan senyum merekah di wajah mereka, seolah-olah keterisolasian itu tak lagi terasa. Pak Hamid pun tersenyum puas—baginya, menjadi marbot dan relawan adalah dua panggilan hati yang sama mulianya.

Kisah Pak Hamid dan para prajurit TNI di perbatasan ini mengajarkan kita bahwa gotong royong tak mengenal jarak. Meski medan berat dan akses terbatas, semangat kebersamaan mampu menembus segala rintangan. Semoga program seperti ini terus berlanjut, dan warga desa terisolir seperti Sebunga tak pernah merasa sendiri. Karena di ujung negeri, masih ada tangan-tangan yang terulur, siap berbagi dan menguatkan.

bantuan TNI ke desa terisolir relawan marbot perbatasan Indonesia-Malaysia
Terkait
  • Topik: bantuan TNI ke desa terisolir, relawan marbot, perbatasan Indonesia-Malaysia
  • Tokoh: Pak Hamid, Letnan Dua (Inf) Reza Permana
  • Organisasi: TNI, Satgas Pamtas Yonif 641/Bru, Masjid Al-Muhajirin
  • Tempat: Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Malaysia, Desa Sebunga

Artikel terkait