Dulu, saat senja mulai merambat di Desa Cikoneng, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Banten Barat, suara genset diesel menderu-deru menjadi teman setia warga. Lampu hanya menyala sekitar 10 jam sehari—mulai jam lima sore hingga tengah malam. Setelah itu, desa kembali sunyi dan gelap gulita. Bu Neneng (50), ibu dari tiga anak, sering kali harus mengatur waktu sebaik mungkin: mencuci, menyetrika, mengisi ulang ponsel, semuanya harus dilakukan sebelum pukul 12 malam. Yang paling membuat ia risau adalah saat anak-anaknya harus belajar hanya dengan cahaya lilin atau senter ponsel yang baterainya terbatas. Namun, cerita itu kini tinggal kenangan. Berkat program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-121, desa terpencil di Banten ini kini bersinar terang. Listrik desa yang dulu hanya mimpi, kini menjadi nyata, 24 jam penuh. Senyum warga pun merebak bagaikan mentari pagi yang menyapa lereng bukit.
Sinar Matahari untuk Desa Cikoneng
Program TMMD ke-121 yang digagas oleh Kodam III/Siliwangi bersama Kementerian ESDM berhasil memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (energi terbarukan) berkapasitas 50 kWp di Cikoneng. Sebanyak 200 rumah kini menikmati aliran listrik dari panel surya yang dipasang di atas tanah warga. Para prajurit TNI tidak hanya datang untuk memasang panel, tetapi juga mengajarkan warga cara merawatnya. Pemuda desa mendapat pelatihan khusus agar mereka bisa mandiri memperbaiki panel jika ada kerusakan. Suasana peresmian sangat meriah—panggung hiburan, tarian adat, serta kehadiran Bupati Lebak dan perwira TNI membuat warga berbondong-bondong datang. Bagi masyarakat Cikoneng, ini bukan sekadar listrik, melainkan simbol kebersamaan dan kepedulian antara TNI dan rakyat. Manfaat yang dirasakan warga pun begitu nyata:
- Listrik 24 jam: Warga kini bisa menyalakan lampu kapan pun dibutuhkan, tidak lagi dibatasi waktu. Malam hari jadi lebih terang dan aman dari bahaya.
- Belajar malam tanpa khawatir: Bu Neneng bercerita, anak-anaknya bisa mengerjakan PR di malam hari tanpa takut lampu padam. “Dulu mereka hanya mengandalkan lilin, sekarang bisa belajar dengan tenang,” ujarnya dengan mata berbinar.
- Usaha warga berkembang: Warung kecil dan usaha rumahan bisa buka lebih lama, meningkatkan pendapatan keluarga. Beberapa warga mulai menjual makanan ringan di malam hari karena sudah ada penerangan.
- Mandiri dengan PLTS: Pelatihan perawatan panel surya membuat pemuda desa siap mengelola listrik desa sendiri, tanpa terus bergantung pada bantuan dari luar. Ini bekal berharga untuk masa depan Cikoneng.
Gotong Royong di Bawah Sinar Matahari
Kisah di Cikoneng bukan sekadar tentang teknologi panel surya, melainkan tentang gotong royong yang hidup kembali. Para prajurit TNI tidak hanya bekerja dengan tangan, tetapi juga dengan hati. Mereka ngopi bareng warga di teras rumah, mendengar keluh kesah, dan ikut merayakan tarian adat saat acara peresmian. Kehangatan ini membuat program TMMD bukan sekadar proyek, melainkan keluarga baru yang saling menguatkan. Warga kini punya harapan baru: anak-anak bisa belajar lebih baik, desa bisa berkembang, dan rasa kebersamaan semakin erat. Ibu-ibu di Cikoneng kini bisa memasak di malam hari tanpa khawatir, sementara bapak-bapak bisa berkumpul di pos ronda yang kini terang benderang. Semua berubah berkat sinar matahari yang ditangkap panel surya dan hati yang tulus dari para prajurit.
Kisah Cikoneng ini mengajarkan kita bahwa kebaikan tak perlu menunggu sempurna. Ia hadir dari langkah kecil, dari obrolan di teras, dari senyum anak-anak yang bisa belajar dengan cahaya lampu, bukan lagi lilin. Listrik desa dari energi terbarukan ini bukan hanya penerangan, melainkan jembatan menuju masa depan yang lebih cerah. Dan semua itu dimulai ketika TNI dan rakyat bergandengan tangan, di bawah sinar matahari Banten. Selamat untuk warga Cikoneng, desa yang kini terang benderang—bukan hanya karena listrik, tetapi karena kebersamaan yang menyinari setiap sudut hati.