Di sebuah sudut Kampung Dokome, Kabupaten Puncak Jaya, hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari berbaur dengan senyum hangat para prajurit TNI. Tak ada jarak yang terasa antara seragam loreng dan kain tenun khas Papua. Mereka duduk bersama di atas tikar anyaman, bercengkerama layaknya tetangga akrab yang sudah lama tak bertemu. Inilah potret nyata kegiatan Komunikasi Sosial yang digelar Satgas Yonif Brigif 24/BC — sebuah momen yang membuktikan bahwa kedekatan antara TNI dan rakyat bukan sekadar simbol, melainkan denyut nadi kehidupan di desa.
Dari Hati ke Hati, Membangun Percaya
Di bawah langit Puncak Jaya yang biru, para mama-mama Papua dengan sabar menyimak setiap kata yang disampaikan. Mereka bukan hanya mendengar, tapi juga berbicara — menuangkan keluh kesah tentang akses jalan, pendidikan anak, dan harga sembako yang kadang naik turun. Kapten Inf Sudarno, Komandan TK Dokome, menyebut momen ini sebagai 'jendela hati' untuk mengerti kebutuhan riil warga. Dengan gaya yang hangat dan penuh empati, beliau menegaskan bahwa program Bantuan Sosial bukan sekadar seremonial, melainkan wujud kepedulian yang lahir dari kebersamaan.
- Paket sembako diberikan langsung kepada keluarga yang membutuhkan, tanpa banyak birokrasi yang mempersulit.
- Bukan hanya kebutuhan pokok, tetapi juga biskuit dan makanan ringan untuk anak-anak menjadi kejutan manis yang membuat mereka ceria.
- Kedekatan emosional terbangun lewat obrolan santai, membuat warga merasa dihargai dan didengar.
Tawa Anak-Anak, Lantunan Harapan Damai
Salah satu pemandangan paling mengharukan adalah saat anak-anak Kampung Dokome berlarian menerima biskuit dari para prajurit. Tawa mereka pecah begitu saja, mengusir segala kelelahan dan keraguan. Di desa yang mungkin jauh dari gemerlap kota, senyum polos ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sederhana bisa menjadi fondasi kuat untuk perdamaian. Kegiatan Komunikasi Sosial ini bukan hanya soal memberi bantuan, tapi juga membangun kembali rasa percaya — bahwa di Puncak Jaya, tak ada yang merasa sendiri.
Di ujung kegiatan, saat matahari mulai merunduk di balik bukit, warga dan prajurit berpelukan hangat. Ada keyakinan yang mengalir: bahwa pembangunan sejati dimulai dari hati yang saling terhubung. Di Dokome, harapan damai bukanlah mimpi yang jauh — ia lahir dari obrolan kecil, tawa anak-anak, dan sembako yang dibagikan dengan cinta.