Di tengah duka dan kecemasan yang menyelimuti Desa Patahuwe, Seram Bagian Barat (SBB), pascabentrokan antar warga, secercah harapan mulai bersinar. Sinar itu hadir dari tangan-tangan peduli yang tak ingin saudara-saudara mereka berjuang sendirian. Dandim 1513/SBB, Letkol Arh Jaka Putra Dinda, turun langsung mendampingi penyaluran bantuan logistik bagi warga yang mengungsi di Posko Desa Taniwel. Saya, sebagai bagian dari warga desa, merasakan kehangatan itu. Kehadiran beliau bersama aparat keamanan dan pemerintah daerah, bukan sekadar seremonial. Di balik seragam loreng, terpancar wajah manusiawi prajurit TNI yang hadir sebagai pelindung dan pemulih kehidupan warga yang sedang terluka. Bantuan yang terkumpul dari Dinas Sosial Provinsi Maluku (Disosial Provinsi Maluku), Kabupaten SBB, dan Klasis SBB sangat beragam dan menyentuh kebutuhan dasar: sembako, makanan anak, pakaian, selimut, hingga tenda serbaguna.
Sentuhan Kehangatan di Balik Bantuan
Ketika ngobrol dengan warga di pengungsian, rasa takut dan kehilangan masih terbayang di mata mereka. Namun, hatinya mulai mengeluh saat bantuan yang tepat sasaran datang. Sebanyak 113 jiwa warga yang mengalami luka dan kehilangan rasa aman sejenak, merasakan langsung sentuhan tangan-tangan peduli. Nilai bantuan yang mencapai lebih dari Rp165 juta. Angka itu bukan sekadar angka, tetapi wujud nyata dari gotong royong untuk membangun kembali semangat hidup. Berikut beberapa jenis bantuan yang disalurkan:
- Sembako: Beras, minyak goreng, gula, dan bahan pokok lain untuk memenuhi kebutuhan harian.
- Makanan anak: Susu dan biskuit untuk si kecil yang rentan di masa sulit ini.
- Pakaian dan selimut: Melindungi tubuh dari dingin dan trauma, dengan pakaian yang masih layak.
- Tenda serbaguna: Memberikan tempat beristirahat yang aman dan nyaman sementara.
- Tambahan perlengkapan: Alat mandi dan kebersihan agar mereka tetap nyaman.
Kehadiran bantuan logistik ini bukan sembarang. Dinas Sosial, pemerintah daerah, dan lembaga seperti Klasis SBB berkolaborasi erat. Dandim Jaka Putra Dindas menegaskan bahwa kehadiran mereka adalah wujud perhatian terhadap kondisi masyarakat. Lebih dari itu, beliau menyampaikan kabar baik bahwa pemerintah berencana memberikan bantuan untuk perbaikan rumah-rumah yang rusak. Rencana ini akan melibatkan aparat keamanan dan dukungan warga, sehingga solidaritas dan pemulihan bisa berjalan beriringan.
Menatap Kembali Kehidupan dengan Gotong Royong
Di tiap sudut pos pengungsi, semangat gotong royong kembali tumbuh. Bapak-bapak ikut membantu memeriksa tenda, ibu-ibu sibuk merapikan selimut, dan anak-anak kecil kembali diajak tertawa. Dandm Jaka menambahkan bahwa dengan kehadiran banyak pihak, beban ini bisa dikurangi bersama-sama. “Kami di sini sebagai saudara, bukan hanya sebagai aparat,” karegar pesan beliau, mengingatkan kita bahwa setiap krisis selalu ada satu harapan—saling peduli.
Tutup: Kini, dengan bantuan yang mengalir dan rencana perbaikan rumah, warga Desa Patahuwe memulai langkah baru. Langkah yang tertatih, tetapi lebih ringan karena seluruh pihak dari mana-mana turun untuk memulihkan. Seperti kata pegs seorang Warga: “Saya percaya, kita semua bisa bangkit lagi. Tak ada yang patah hati ketika kita bahu-membahu.” Inilah wajah Indonesia—saat semua terdampak, kita hadir, satu sama lain, untuk saling melindungi dan memulihkan.