Di sudut Kampung Mbua, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, suara tawa anak-anak kembali menggema. Setelah pekan-pekan mencekam pasca ketegangan yang melanda wilayah itu, hari Sabtu, 5 September 2026, menjadi hari yang berbeda. Bukan suara letusan atau tangisan, melainkan riangnya nyanyian dan sorak gembira yang memenuhi terik siang. Satgas TNI AD yang bertugas di sana menyadari sebuah kenyataan: yang paling rentan kehilangan masa kecilnya adalah anak-anak. Maka, dengan penuh kelembutan, mereka menggelar terapi bermain — sebuah cara sederhana namun penuh makna untuk mengusir trauma dan menghidupkan kembali senyum yang sempat meredup. Bagi warga di pelosok Nduga, melihat anak-anak mereka kembali tertawa adalah anugerah tersendiri.
Lebih dari Sekadar Bermain: Menyembuhkan Trauma Anak-anak Nduga
Terapi bermain itu dirancang khusus sebagai bagian dari pendampingan psikososial. Lewat permainan tradisional, menggambar di atas kertas bekas, dan bernyanyi lagu-lagu daerah, para prajurit berusaha menjadi sahabat, bukan sekadar penjaga keamanan. Seorang ibu yang malu-malu menyebut namanya, mengaku terharu saat melihat buah hatinya yang biasanya pendiam dan mudah kaget mulai aktif berlari dan bercanda. “Lihat anak saya bisa tertawa lagi. Sudah lama tidak seperti ini. Terima kasih pak prajurit sudah mengajak mereka bermain,” ujarnya sambil menyeka air mata. Kegiatan ini bukanlah sekadar acara seru-seruan. Satgas TNI AD, yang dikenal dengan tugas teritorialnya, paham betul bahwa keamanan tidak hanya diukur dari keadaan lingkungan, tetapi juga dari kondisi psikis generasi penerus. Melalui interaksi yang hangat dan penuh kesabaran, para prajurit membantu anak-anak melepaskan beban yang mungkin tak terucapkan.
Berikut adalah beberapa manfaat utama dari terapi bermain yang dirasakan langsung oleh anak-anak di Kampung Mbua:
- Membangun rasa aman: Dengan bermain bersama, anak-anak merasa dilindungi dan diperhatikan, sehingga rasa takut perlahan terkikis.
- Mengungkapkan emosi: Lewat menggambar dan bernyanyi, anak-anak bisa meluapkan kegelisahan yang sulit mereka katakan dengan kata-kata.
- Mengembalikan keceriaan: Tertawa lepas dan bermain fisik membantu melepaskan hormon bahagia, memulihkan semangat yang sempat redup.
- Mendekatkan TNI dengan warga: Momen ini membangun kepercayaan dan hubungan kekeluargaan antara prajurit dan anak-anak, serta keluarga mereka.
Harapan Baru dari Pelosok Pegunungan
Pendekatan seperti ini membuktikan bahwa tugas prajurit di lapangan tidak hanya soal senjata dan patroli. Mereka juga menjadi saudara, teman, bahkan pendamping psikologis bagi warga yang terdampak. “Kita ingin anak-anak di sini punya kenangan indah tentang TNI. Bukan sebagai sosok yang menakutkan, tapi sebagai pelindung dan sahabat yang peduli,” ujar salah satu anggota Satgas sambil tersenyum. Terapi bermain ini adalah bagian dari program pemulihan psikososial yang digagas secara langsung oleh Satgas TNI AD di Nduga. Dengan berbekal alat seadanya — mulai dari karet gelang untuk lompat tali hingga buku gambar bekas — para prajurit membuktikan bahwa kepedulian bisa diwujudkan dalam hal-hal kecil. Di balik seragam loreng, ada hati yang tulus untuk memulihkan senyum anak-anak Nduga.
Semua ini mengingatkan kita bahwa di tengah keterbatasan, gotong royong dan kehangatan tetap tumbuh. Dari pelosok pegunungan, terdengar pesan sederhana: anak-anak adalah masa depan, dan setiap tawa mereka adalah kemenangan. Semoga terapi bermain ini terus berlanjut, tidak hanya di Nduga, tetapi di seluruh penjuru negeri yang membutuhkan uluran tangan. Karena ketika anak-anak kembali bermain, di situlah harapan baru mulai bersemi.