Hujan deras yang mengguyur Desa Sumbermulya, Kabupaten Lumajang, selama dua hari berturut-turut membawa duka bagi warga. Banjir bandang yang melanda Jumat lalu merobohkan jembatan kayu satu-satunya penghubung antara pemukiman dan area persawahan. Setiap pagi, anak-anak harus memutar jauh untuk bisa sampai ke sekolah, sementara para petani mengeluh karena hasil panen tak bisa diangkut. Namun, di tengah kepiluan itu, ada secercah kehangatan yang datang dari Babinsa Koramil 0810. Mereka tak ingin warga terus merasakan kesulitan. Dengan sigap, sepuluh personel Babinsa turun langsung ke lapangan, bergabung dengan puluhan warga, dan bersama-sama memperbaiki jembatan yang ambruk.
Gotong Royong di Tengah Guyuran Hujan
Hari Sabtu pagi, langit masih mendung. Namun semangat gotong royong tak surut. Babinsa dan warga bahu-membahu mengangkat balok-balok kayu besar yang hanyut terbawa arus. Tali tambang diikatkan kuat-kuat pada tiang, sementara beberapa warga mengecek kekokohan struktur. Di pinggir sungai, ibu-ibu sibuk menyiapkan kopi hangat dan ubi rebus. “Ini bukan sekadar kerja, ini sudah menjadi panggilan hati,” ujar Sertu Andi, Babinsa yang memimpin kegiatan. Kehangatan dari secangkir kopi dan senyum ibu-ibu membuat pekerjaan berat terasa ringan. Hanya dalam setengah hari, jembatan yang sebelumnya tak bisa dilalui kini kembali berdiri kokoh. Anak-anak bisa kembali bersekolah tanpa khawatir terlambat, dan petani bisa kembali membawa hasil bumi ke pasar.
Babinsa: Bukan Sekadar Tugas, Tapi Panggilan Hati
Bagi Sertu Andi dan anggota Koramil 0810, membantu warga adalah kewajiban yang lahir dari rasa cinta pada tanah air dan sesama. “Kami tak bisa diam melihat warga kesulitan. Ini sudah menjadi tugas kami sebagai abdi negara dan pengayom masyarakat,” tegasnya sambil menyeka keringat. Kehadiran Babinsa di tengah desa bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tapi juga sebagai saudara yang siap membantu kapan pun. Program teritorial seperti ini, menurut warga, sangat dirasakan manfaatnya. Beberapa manfaat langsung dari kegiatan ini antara lain:
- Akses satu-satunya menuju sawah dan sekolah kembali terbuka, sehingga aktivitas ekonomi dan pendidikan tak terhambat.
- Semangat gotong royong antarwarga dan TNI semakin erat, membangun rasa kebersamaan yang kuat.
- Kehadiran Babinsa memberi rasa aman dan nyaman, bahwa di saat sulit selalu ada tangan yang mengulurkan bantuan.
Semua berawal dari kepedulian dan kerja sama. Hujan yang tadinya menjadi bencana, berubah menjadi berkah karena lahir persaudaraan yang lebih erat. Kini, jembatan itu bukan hanya menjadi penghubung fisik, tapi juga penghubung hati antara warga dan prajurit. Dengan langkah ringan, anak-anak kembali menuju sekolah, petani kembali ke sawah, dan senyum merekah di wajah setiap warga Desa Sumbermulya. Karena di balik setiap kesulitan, selalu ada kebersamaan yang menghangatkan.