Pagi itu, udara segar masih menyelimuti Desa Carangsari di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Suara gemericik air sungai berpadu dengan derap langkah warga yang mulai berdatangan. Mereka membawa bambu, tali ijuk, dan peralatan tukang. Di ujung desa, jembatan gantung yang selama ini menjadi satu-satunya akses menuju sawah dan ladang tampak memprihatinkan. Banjir beberapa pekan lalu telah merobek beberapa bagian lantai jembatan, membuatnya tak lagi aman untuk dilewati. Namun, di tengah kerusakan itu, semangat gotong royong justru mulai menyala. Warga tahu, tanpa jembatan ini, hidup mereka akan terhambat—anak-anak sulit ke sekolah, petani tak bisa mengangkut hasil panen, dan ibu-ibu kesulitan menjual sayuran ke pasar.
Serda Suardana: Babinsa yang Tak Pernah Jauh dari Warga
Tanpa banyak bicara, Serda I Made Suardana, Babinsa dari Koramil 03/Petang, sudah berada di barisan terdepan. Dengan cekatan ia mengikat anyaman bambu, memastikan setiap simpul kuat menahan beban. “Kita kerja bersama. Ini bukan hanya tugas saya, tapi tanggung jawab kita semua untuk menjaga akses warga,” ujarnya sambil menyeka keringat. Warga pun makin bersemangat. Mereka bahu-membahu mengangkat bambu, merangkai pijakan, dan mengencangkan tali pengaman. Suara tawa dan obrolan ringan terdengar di antara hentakan palu. Suasana yang hangat dan akrab membuat pekerjaan berat terasa ringan. Kehadiran Babinsa di tengah warga bukan hal baru—ia sering ikut gotong royong, memberi penyuluhan, bahkan membantu panen. Warga pun menganggapnya seperti keluarga sendiri. Inilah wujud nyata kedekatan TNI dengan rakyat, bahwa seorang Babinsa bukan sekadar tentara, melainkan sahabat yang selalu hadir dalam suka dan duka.
Jembatan Gantung: Urat Nadi Kehidupan Desa Carangsari
Jembatan sepanjang sekitar 30 meter ini bukan sekadar penghubung dua tepi sungai. Bagi warga desa Carangsari, jembatan gantung ini adalah urat nadi kehidupan sehari-hari. Setiap pagi, puluhan anak-anak sekolah menyeberang dengan seragam rapi. Para petani mengangkut hasil panen dari ladang ke rumah. Ibu-ibu membawa sayuran segar ke pasar. Jika jembatan rusak, semua aktivitas terhambat:
- Anak-anak terpaksa memutar jauh atau menyeberang sungai dengan risiko tinggi—sering basah kuyup dan terlambat ke sekolah.
- Petani kesulitan membawa hasil bumi, sehingga panen sering terlambat sampai tujuan dan harganya menurun.
- Kegiatan ekonomi warga melambat karena akses utama terputus, membuat mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk transportasi alternatif.
Dengan perbaikan yang dilakukan bersama, semua masalah itu perlahan terurai. Kini jembatan gantung kembali kokoh, siap menopang langkah ribuan warga setiap harinya. Selain memperbaiki jembatan, Babinsa dan warga juga membersihkan saluran air di sekitar untuk mencegah banjir lagi. TNI di sini bukan sekadar tentara, tapi sahabat desa yang selalu hadir saat dibutuhkan.
Warga Carangsari tak bisa menyembunyikan rasa syukur. “Kami seperti punya keluarga baru di kalangan TNI. Babinsa dekat dengan kami, tidak hanya dalam tugas, tapi benar-benar hati,” ucap Pak Wayan, salah seorang petani setempat, matanya berkaca-kaca. Kebersamaan ini mengajarkan kita bahwa di balik setiap jembatan yang kokoh, ada tangan-tangan hangat yang saling menguatkan. Semoga semangat gotong royong ini terus hidup, dan jembatan gantung ini menjadi saksi bisu persahabatan antara TNI dan desa Carangsari.