Di sebuah dusun kecil di Kecamatan Rawa Jitu, Sumatera Selatan, saat senja mulai merambat di ufuk timur, suara merdu lantunan ayat suci Al-Quran terdengar dari sebuah surau sederhana beratap seng. Di dalamnya, puluhan anak-anak desa duduk rapi membentuk lingkaran, mata mereka berbinar-binar menatap papan tulis kecil yang bertuliskan huruf hijaiyah. Yang membimbing mereka bukanlah seorang kyai atau ustaz, melainkan seorang Babinsa — Serka Hadi Santoso — yang dengan sabar mengajari mereka membaca dan menghafal Al-Quran. Suasana hangat dan penuh semangat itu telah menjadi pemandangan rutin setiap petang di dusun ini, selama lebih dari satu tahun sejak Serka Hadi ditempatkan di desa pelosok tersebut.
Panggilan Hati Seorang Babinsa di Tengah Tugas Kedekatan Teritorial
Awalnya, Serka Hadi hanya berkeliling desa untuk menjalankan tugas pembinaan teritorial. Namun, hatinya tersentuh saat melihat banyak anak-anak yang menghabiskan waktu bermain tanpa bimbingan keagamaan. “Saya merasa ada panggilan hati untuk berbagi ilmu. Meskipun tugas utama saya sebagai Babinsa, urusan hati tidak bisa dibatasi oleh seragam,” ujar pria dengan senyum rendah hati itu. Setelah meminta izin kepada Kepala Desa dan tokoh agama setempat, ia pun mulai membuka kelas mengaji di surau desa. Dengan sabar, ia mengajarkan tajwid, hafalan surat pendek, serta adab-adab dalam membaca Al-Quran. Anak-anak yang awalnya malu-malu kini sudah terbiasa dan antusias menunggu kehadiran Babinsa guru mengaji mereka setiap sore.
Manfaat yang Terasa: Akhlak Baik dan Kedisiplinan Semakin Terjaga
Kehadiran Serka Hadi sebagai pengajar mengaji membawa dampak yang nyata bagi kehidupan warga dusun. Ibu Sari, salah satu wali murid, bercerita dengan mata berkaca-kaca, “Anak saya jadi rajin mengaji dan akhlaknya lebih baik. Serka Hadi tidak menggurui, tetapi membuat anak-anak betah belajar. Kami bangga memiliki Babinsa seperti beliau.” Selain belajar mengaji, kegiatan ini juga diisi dengan cerita-cerita tentang kedisiplinan, cinta tanah air, dan semangat gotong royong yang dibalut dengan canda tawa. Anak-anak pun semakin antusias karena setiap sesi diakhiri dengan kuis kecil yang membuat mereka gembira.
Berbagai manfaat yang dirasakan warga desa antara lain:
- Anak-anak menjadi lebih rajin mengaji dan memahami bacaan Al-Quran dengan baik.
- Akhlak dan sopan santun anak-anak mulai terlihat membaik, seperti yang diakui para orang tua.
- Kedisiplinan dan rasa cinta tanah air tumbuh melalui cerita-cerita yang dibawakan Serka Hadi.
- Terjalinnya hubungan yang erat antara Babinsa dengan masyarakat desa, menciptakan suasana harmonis di pelosok Sumsel.
Ketika senja semakin gelap dan lantunan ayat suci berhenti, anak-anak pulang dengan senyum puas. Serka Hadi menutup buku kecilnya dan tersenyum, melihat keceriaan yang terpancar di wajah mereka. Di desa ini, kehangatan tidak hanya hadir dari sekedar belajar mengaji, tetapi dari rasa kebersamaan yang tumbuh di antara seorang Babinsa dan anak-anak desa. Semoga selalu ada Serka Hadi di setiap pelosok negeri, yang mengingatkan kita bahwa kedekatan dengan warga adalah kunci untuk membangun desa yang kuat dan penuh berkah.