Pagi itu, embun masih setia menempel di setiap helai daun padi yang mulai menguning di Desa Sukamaju, Sulawesi Selatan. Udara segar membelai wajah-wajah petani yang sudah sejak subuh berkumpul di pinggir sawah. Di tengah keramaian itu, tampak Sertu Ahmad, Babinsa Koramil 1424, dengan cekatan ikut memegang sabit dan memotong batang padi. Bukan sekadar membantu, kehadirannya selalu dirasa sebagai bagian dari keluarga besar petani di desa ini. Musim panen kali ini terasa berbeda — hasil melimpah, tawa riang, dan semangat gotong royong yang terasa begitu hangat. Suara sabit berpadu dengan obrolan akrab, menciptakan harmoni yang sudah lama menjadi tradisi di desa yang dikenal guyub ini.
Babinsa Bukan Hanya Penjaga, Tapi Sahabat Petani di Sawah
Bagi warga Desa Sukamaju, kehadiran Babinsa Sertu Ahmad sudah seperti angin segar yang selalu datang saat dibutuhkan. Bukan kali ini saja ia turun ke sawah. Sejak beberapa pekan lalu, ia bersama warga bergotong royong membersihkan saluran irigasi yang sempat tersumbat. Hasilnya, aliran air lancar dan padi tumbuh subur. Musim ini, panen mencapai 5 ton per hektar — angka yang membuat banyak petani tersenyum lega. Sertu Ahmad tak hanya memotong padi, ia juga mendengar keluh kesah petani, memberikan tips mengendalikan hama secara alami, dan memastikan hasil panen bisa dijual dengan harga wajar melalui koperasi desa. Pendekatan yang hangat dan tulus ini membuat para petani merasa diperhatikan, bukan sekadar diinstruksikan. Berikut beberapa dampak positif dari pendampingan Babinsa di bidang pertanian desa Sukamaju:
- Meningkatkan hasil panen padi hingga optimal berkat irigasi yang lancar dan perawatan tanaman yang baik.
- Memperkuat gotong royong antara TNI dan warga desa dalam setiap kegiatan, dari panen hingga perbaikan infrastruktur.
- Memberikan edukasi pertanian langsung di lapangan, termasuk cara mengendalikan hama ramah lingkungan.
- Menjaga stabilitas harga jual hasil tani melalui koperasi desa, sehingga petani tidak dirugikan tengkulak.
Makan Siang di Pinggir Sawah, Kebersamaan yang Tak Ternilai
Panen kali ini tidak hanya soal hasil melimpah, tapi juga soal kehangatan kebersamaan. Setelah lelah bekerja, warga dan Babinsa berkumpul di tepi sawah untuk makan siang bersama. Menu sederhana — nasi liwet, ayam goreng, dan sambal terasi — terasa begitu istimewa di tengah guyuran tawa dan cerita. Pak Kades, dengan senyum lebar, bercerita bahwa hasil panen ini akan segera dijual ke koperasi desa. “Harganya wajar, jadi petani tidak dirugikan tengkulak,” ujarnya penuh syukur. Sertu Ahmad pun tak ketinggalan, memberikan tips tambahan soal pengendalian hama yang didengarkan antusias oleh para petani muda. Suasana begitu cair, seakan tak ada jarak antara aparat dan warga. “Terima kasih TNI, panen kami sukses,” kata Pak Kades mewakili rasa hormat dan syukur warga. Ucapan itu bukan sekadar formalitas, melainkan ungkapan hati yang tulus, mengingatkan kita bahwa di balik seragam ada hati yang peduli. Dari pagi hingga sore, sawah menjadi saksi betapa indahnya kebersamaan antara TNI dan rakyat — sebuah tradisi yang terus dijaga turun-temurun, menguatkan ikatan desa dan negara, serta menghangatkan jiwa setiap insan yang merasakannya. Semoga semangat gotong royong ini terus menyala, dan hasil panen melimpah selalu menjadi berkah bagi kita semua.