Pagi itu, di Desa Aikmel, Lombok Timur, suasana masih terasa sejuk setelah angin kencang kemarin sore merobohkan sebagian rumah milik Pak Saiful (65). Warga yang tinggal seorang diri di rumah sederhana itu tampak termenung di depan puing-puing yang berserakan. Namun, tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat—Serda Hendra, Babinsa Koramil 1615/Aikmel, datang bersama lima anggota dan belasan warga sekitar. Mereka membawa peralatan, semangat, dan senyuman. "Ayo kita gotong royong, biar rumah Pak Saiful cepat berdiri lagi!" seru Serda Hendra, disambut tawa dan anggukan warga.
Gotong Royong yang Menghangatkan Hati
Di bawah terik matahari pagi, mereka mulai membersihkan puing-puing kayu dan genteng yang berserakan. Serda Hendra memimpin langsung kerja bakti itu, sesekali bersenda gurau dengan warga untuk menjaga semangat. Pak Saiful, yang hatinya hancur melihat rumahnya roboh, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. "Saya tak bisa bayangin, tanpa bantuan Babinsa dan tetangga, mungkin saya cuma bisa duduk menangis," ujarnya lirih sambil menyeka air mata. Babinsa tak hanya membantu memperbaiki rumah, tapi juga membawa bantuan yang sangat berarti bagi Pak Saiful:
- Bantuan sembako untuk kebutuhan makan Pak Saiful selama masa perbaikan rumah
- Tenda darurat sebagai tempat tinggal sementara agar beliau tak tidur di bawah langit terbuka
- Alat bangunan dan kayu dari sumbangan warga dan Koramil untuk membangun kembali dinding dan atap yang rusak
Kedekatan Babinsa, Wujud Nyata Kepedulian Teritorial
Program kedekatan teritorial yang dijalankan Babinsa memang bukan sekadar formalitas—ini adalah bukti nyata bahwa tentara hadir di tengah-tengah warga. Serda Hendra mengaku sudah mengenal Pak Saiful sejak lama, karena setiap minggu ia menyempatkan diri blusukan ke Desa Aikmel. "Saya sudah anggap Pak Saiful seperti bapak sendiri. Kalau ada musibah, sudah pasti kita bantu," katanya sambil menyusun kayu balok untuk tiang baru. Warga lain, seperti Ibu Inaq (50) yang ikut memasak untuk para pekerja, menambahkan, "Kehadiran Babinsa bikin kita merasa tidak sendiri. Benar-benar seperti keluarga." Bencana angin kencang di Lombok Timur memang tak bisa dihindari, tapi dengan kebersamaan ini, rumah Pak Saiful mulai berdiri kembali—satu per satu papan dipasang, satu per satu senyum merekah.
Menjelang sore, saat pekerjaan hampir selesai, Pak Saiful duduk di kursi kayu yang sudah diperbaiki. Ia memandangi rumahnya yang mulai kokoh, lalu tersenyum kepada Serda Hendra dan warga yang masih bergotong royong. "Terima kasih, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua," ucapnya lirih, tapi cukup terdengar oleh hati setiap orang. Di Lombok Timur, di Desa Aikmel, angin kencang mungkin bisa merobohkan dinding, tapi takkan pernah merobohkan semangat gotong royong dan kedekatan antara Babinsa dan warga. Karena di sini, kebersamaan adalah fondasi yang paling kuat.