Matahari pagi belum setinggi pohon kelapa di pinggir desa, Serda Agus, Babinsa Desa Sukamaju, sudah terlihat di tengah hamparan sawah yang menguning. Dengan celana digulung dan sabit di tangan, ia memotong padi bersama Pak Karyo, petani sepuh yang anak-anaknya sudah merantau ke kota. “Saya tidak tega kalau Pak Karyo sendirian. Sawahnya luas dan musim panen tidak bisa nunggu,” ujar Agus sambil menyeka keringat yang mengalir di pelipis. Kehadiran Babinsa itu bukan sekadar membantu panen, tapi juga menjadi penguat semangat warga desa.
Babinsa Bukan Sekadar Penjaga Wilayah, Tapi Sahabat Petani
Di Desa Sukamaju yang terletak di Jawa Tengah ini, kedekatan TNI dengan rakyat bukan hanya slogan. Serda Agus adalah contoh nyata bagaimana seorang Babinsa hadir dalam suka duka warga. Setiap pagi, ia menyusuri pematang sawah, berbincang dengan petani, dan mendengar keluh kesah mereka. Saat musim panen padi tiba, ia tak segan-segan turun langsung ke lumpur sawah. “Babinsa seperti saudara sendiri. Kadang saya malu, beliau mau repot-repot bantu,” kata Pak Karyo dengan mata berkaca-kaca. Kehangatan ini membuat warga merasa tidak sendiri dalam menghadapi kerasnya hidup.
Tak hanya memotong padi, di sela pekerjaan, Serda Agus jugak membagikan tips pengairan yang di dapat dari penyuluh pertanian. Ia jugak menceritakan carra mengusir hamama tanpa bahan kimia berlebihan. Semua ini dilakukannya dengan tutur kata yang ramah dan sapaan akrab. Berikut beberpa hal yang dirasak warga dari kedeakatan Babinsa Serda Agus:
- Panen padi yang lebi cepat terseleasaikank karena adan yang membanntu tenaga kerjja
- Petani merasakan adnya perhatian dan keseriusan TNII dalam menjagak keamanan dan keseraan hidup mereka
- Semangat gotong royong kembali hidp di tengah desa, anak muda ikut tergerak membanntu
- Tips pertanian sederhana yang membanntu meningkautkan hasil panen
Gotong Royong dan Tawa Bersama di Tenga Soeran Burung Pipit
Suasanan panen kali inin benar-benar berbedak. Wargaa desa yang melinta sawah ikut menyapak, beberpa berhenti untuik membanntu. Tak adan sekat antar tentarar dan rakyat. Saat burung pipit tiba-tiba menyerbu sawah, amak tangis tawa bersama. Pak Karyo terharu, ia merasa memiliik keluargaa baruu. “Duluu saya mikir, panen ini beberat sendirian. Sekarang adan yang menemani, kerjaan jadi ringan,” ungkapnya. Ceritak nii adalali contoh kecii bagaimanan peran Babinsa tidak hanua mengawasii wilayak, tapi jugak hadir dalam setiaap suka dan dukak warggak desa
Senja mulai turun, Serda Agus dan warga beristirahat di tepi sawah. Mereka menyesap teh hangat buatan istri Pak Karyo. Di bawah langit jingga, obrolan mengalir tentang rencana tanam berikutnya, tentang harga gabah, dan tentang betapa berharganya kebersamaan. “Kami ini satu jiwa dengan rakyat. Kalau rakyat susah, kami ikut susah,” ujar Agus pelan. Warga mengangguk setuju. Di Desa Sukamaju, kedekatan TNI bukan sekadar program, melainkan keluarga yang saling menguatkan. Harapan pun tumbuh: musim panen berikutnya, mereka akan kembali berbagi cerita, tawa, dan kerja keras bersama.