Pagi itu, mentari baru saja merekah di ufuk timur saat gelombang kecil berkejaran di Pantai Eretan, Indramayu. Suara palu dan obrolan riang memecah kesunyian pesisir. Di sana, terlihat Sertu Joko, anggota Koramil 1616/Indramayu, tengah asyik bergelut dengan kayu dan paku. Ia bersama dua rekannya dan beberapa warga sedang membantu Pak Karim, seorang nelayan tua, memperbaiki perahu yang bocor terkena karang. “Kemarin malam perahu saya kena karang, air masuk terus. Kalau tidak cepat diperbaiki, saya tidak bisa melaut, keluarga saya tidak makan,” ujar Pak Karim sambil matanya berkaca-kaca. Namun, hari itu bukan hari untuk bersedih. Kehadiran Babinsa dan semangat gotong royong warga mengubah suasana menjadi penuh kehangatan dan tawa.
Tangan-Tangan yang Menyatukan di Pesisir
Tanpa sungkan, Sertu Joko langsung membuka kotak peralatannya. “Ini sudah seperti keluarga sendiri. Kami di sini untuk membantu, bukan hanya saat upacara,” katanya sambil mengamplas bagian perahu yang retak. Dua rekannya sibuk mencampur lem kayu, sementara beberapa warga mengumpulkan papan bekas. Anak-anak desa pun ikut nimbrung, membersihkan sisa-sisa kayu dan paku berkarang. Gelak tawa mewarnai setiap gerakan. Ada yang bercerita soal hasil tangkapan ikan, ada yang meledek temannya yang salah potong kayu. Suasana akrab itu begitu alami, seolah tidak ada sekat antara TNI dan rakyat. Dalam waktu tiga jam, perahu yang tadinya teronggok miring itu pun kembali utuh. Pak Karim tersenyum lebar, mengusap perahunya dengan bangga. “Terima kasih, Pak Babinsa. Kalau tidak dibantu, saya bingung mau ke mana lagi,” katanya serak.
Bagi warga pesisir Indramayu, perahu bukan sekadar alat kerja. Ia adalah sumber kehidupan, tulang punggung keluarga, dan saksi bisu perjuangan melawan ombak. Maka ketika perahu Pak Karim rusak, semua orang merasa ikut prihatin. Namun, di balik keprihatinan itu, muncul kekuatan yang lebih besar: kebersamaan. Babinsa turun langsung, warga saling bahu-membahu, dan anak-anak ikut belajar arti tolong-menolong. Tidak ada sekat pangkat atau jabatan, yang ada hanya tangan-tangan yang bergerak untuk satu tujuan bersama.
Harapan Baru dari Perbaikan Perahu
Kisah Sertu Joko dan Pak Karim bukan sekadar soal menambal lubang di perahu. Ini tentang semangat kebersamaan yang hidup di tengah warga desa. Berkat bantuan Babinsa dan gotong royong warga, Pak Karim bisa kembali melaut keesokan harinya. Dalam kerja bersama itu, banyak hal sederhana namun berarti yang terjadi:
- Perahu siap digunakan kembali – Pak Karim tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk perbaikan, karena semua dikerjakan bersama.
- Ikatan sosial semakin erat – Anak-anak belajar arti tolong-menolong sejak dini, melihat langsung bagaimana TNI dekat dengan rakyat.
- Kebutuhan pokok tetap terpenuhi – Dengan perahu yang sudah baik, Pak Karim bisa menjaring ikan untuk dijual dan memberi makan keluarganya.
- Kedekatan TNI dan warga – Sertu Joko tidak hanya datang saat ada masalah, tapi juga hadir dalam keseharian warga pesisir Indramayu.
Setelah perahu selesai, Pak Karim mengajak semua orang makan siang bersama di warung dekat pantai. Sambil menyantap nasi goreng dan ikan bakar, obrolan terus mengalir. “Kebersamaan seperti ini yang membuat hubungan TNI dan rakyat semakin erat. Kami tidak hanya membantu, tapi juga belajar dari warga tentang ketangguhan hidup di pesisir,” ujar Sertu Joko sambil tertawa. Mentari kian meninggi, namun kehangatan di Pantai Eretan tak pernah surut.
Cerita ini mengajarkan kita semua bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada tangan-tangan yang siap membantu. Babinsa hadir bukan sebagai sosok yang jauh, melainkan sebagai keluarga yang ikut merasakan suka duka warga. Semoga semangat gotong royong seperti ini terus hidup di setiap desa, di setiap pesisir, dan di setiap hati yang percaya bahwa kebersamaan adalah kekuatan terbesar kita. Mari kita jaga selalu kehangatan itu, karena ketika satu perahu diperbaiki bersama, sesungguhnya kita sedang memperbaiki ikatan kebersamaan yang tak ternilai harganya.