Malam di Desa Katikutana, Sumba, punya cerita yang berbeda. Saat langit mulai berwarna jingga dan senja menyelimuti bukit-bukit, bukan lampu listrik yang menyala di rumah-rumah warga. Melainkan cahaya redup lampu minyak yang menemani anak-anak mengerjakan PR, ibu-ibu menyiapkan makan malam, dan para bapak yang masih menjaga kios kecil mereka. Di balik keheningan pulau Sumba, ada pertanyaan sederhana namun mendalam yang terus menggema di hati mereka: “Kapan kami bisa merasakan malam yang terang, dengan listrik yang menyala 24 jam?” Suara ini bukan sekadar keluhan, tapi aspirasi tulus dari warga pelosok yang berharap anak-anak mereka bisa belajar dengan nyaman dan kehidupan keluarga bisa lebih baik.
Suara dari Hati yang Akhirnya Terdengar
Dalam sebuah pertemuan yang hangat dan penuh empati, difasilitasi oleh Koramil setempat, puluhan warga Desa Katikutana duduk bersama menyampaikan isi hati mereka. Ruang itu dipenuhi cerita-cerita sederhana namun menyentuh. “Anak saya sering mengerjakan PR dengan lampu minyak, matanya kadang merah. Kapan kami bisa punya listrik terang seperti di kota?” tanya seorang ibu, suaranya lirih namun penuh harapan. Dialog itu mengalir seperti obrolan antar tetangga, mengungkap kenyataan bahwa pasokan listrik yang tidak stabil—hanya menyala 12 jam dan sering padam mendadak—bukan hanya soal gelap atau terang. Ini soal masa depan anak-anak, napas usaha kecil keluarga, dan hak dasar warga di daerah pelosok seperti Sumba untuk menikmati infrastruktur yang layak.
TNI sebagai Sahabat yang Menjembatani Harapan
Para perwira TNI yang hadir dalam dialog itu tidak hanya mendengar, tapi benar-benar mendengarkan. Mereka duduk bersama warga, mencatat setiap keluh kesah dengan penuh perhatian, seperti sahabat yang ingin memahami kesulitan tetangganya. “Kami di sini tidak hanya menjaga keamanan, tapi juga menjadi telinga dan suara Bapak/Ibu untuk menyampaikan kebutuhan ini ke pihak yang berwenang,” ujar Danramil dengan nada meyakinkan. Komitmen ini diwujudkan dalam langkah-langkah nyata yang hangat dan solutif:
- Menyampaikan aspirasi warga secara resmi kepada pemerintah daerah dan pihak PLN, memastikan suara dari pelosok Sumba sampai ke meja kebijakan.
- Menawarkan solusi sementara yang bisa langsung dirasakan warga, seperti pelatihan membuat lampu tenaga surya sederhana, agar anak-anak bisa belajar dengan cahaya yang lebih stabil.
- Memastikan setiap keluhan, sekecil apapun, punya jalan untuk didengar dan ditindaklanjuti, mengisi ruang kosong antara pemerintah dan masyarakat di daerah terpencil.
Kehadiran TNI dalam peran mediator ini seperti angin segar bagi warga desa—sebuah bukti nyata bahwa kedekatan teritorial bukan hanya soal program, tapi soal menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, mendengarkan dengan hati, dan bergotong royong mencari solusi.
Malam di Desa Katikutana mungkin masih dihiasi gemerlap bintang dan cahaya lampu minyak, tapi kini harapannya lebih terang dari sebelumnya. Gotong royong antara warga, TNI, dan pihak terkait mulai membuka jalan untuk solusi permanen pasokan listrik. Cerita hangat dari Sumba ini mengingatkan kita bahwa di setiap sudut pelosok negeri, ada cahaya harapan yang pantas diperjuangkan—cahaya untuk belajar anak-anak, penerangan untuk usaha keluarga, dan kehadiran negara yang hadir dengan mendengar dan berbagi. Bersama, langkah kecil hari ini bisa menjadi terang besar untuk esok yang lebih cerah bagi saudara-saudara kita di desa.