Malam di Kampung Hom-Hom, di jantung Pegunungan Jayawijaya, dulu selalu diselimuti gelap gulita. Begitu matahari tenggelam di balik bukit, hanya suara gemericik air sungai yang setia menemani. Genset tua—satu-satunya sumber penerangan—hanya bisa menyala beberapa jam, dengan suara bising dan bau solar yang menyengat. Anak-anak terpaksa belajar di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, sementara ibu-ibu harus bergantian menyetrika dengan setrika bara. Tapi kini, semua itu tinggal kenangan. Lampu-lampu di setiap rumah kayu sederhana menyala terang, dari senja hingga fajar. Semua berkat aliran sungai pegunungan yang deras, yang diubah menjadi tenaga listrik lewat Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Bagi warga Hom-Hom, perubahan ini bagai mimpi yang akhirnya menjadi nyata.
Dari Aliran Sungai, Lahir Harapan Baru
Sudah puluhan tahun warga desa di pegunungan Jayawijaya ini hanya bisa menikmati listrik beberapa jam sehari. Bahan bakar genset mahal, perawatannya merepotkan, dan motor sering mati mendadak tanpa aba-aba. Kini, air sungai yang selama ini mengalir begitu saja, dimanfaatkan untuk memutar turbin PLTMH. Proyek ini dibangun oleh TNI AU bersama Kementerian ESDM, membawa terang ke kampung terpencil di pegunungan. Kepala Desa, Bapak Yohanes, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. "Dulu gelap gulita, sekarang terang benderang," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. "Anak-anak kami bisa belajar, ibu-ibu tidak lagi repot nyetrika pakai setrika bara." Kini listrik 24 jam nonstop bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan sehari-hari yang melekat.
Berkah yang Mengubah Kehidupan
Manfaat dari PLTMH ini sungguh terasa di setiap sudut kampung. Berikut beberapa perubahan yang paling dirasakan warga:
- Penerangan 24 jam nonstop — tidak ada lagi jadwal mati listrik di malam hari, apalagi saat anak-anak belajar atau ibu-ibu memasak.
- Anak-anak bisa belajar dengan tenang — masa depan mereka lebih terang, tanpa harus bergantian memakai lampu minyak.
- Ibu-ibu bisa menyetrika dan memasak lebih mudah — pekerjaan rumah tangga terasa ringan, udara pun lebih segar tanpa asap genset.
- Warga terlibat langsung sebagai tenaga kerja proyek — mereka ikut merawat PLTMH dengan bangga, bukan hanya sebagai penerima manfaat.
Bersama Menjaga Terang, Warisan untuk Anak Cucu
Proyek PLTMH Hom-Hom bukan sekadar infrastruktur—ini adalah cerminan gotong royong dan kedekatan. TNI AU memberikan pelatihan agar warga mampu merawat sendiri pembangkit ini. Mulai dari membersihkan saluran air dari dedaunan, hingga mengganti suku cadang sederhana. Semua dilakukan secara gotong royong, seperti tradisi lama yang hidup kembali. Warga belajar mandiri, tidak lagi hanya menunggu bantuan dari luar. "Kami ingin anak cucu kami juga bisa menikmati terang ini," kata Bapak Yohanes penuh haru. "Kami bangga, karena ini hasil kerja kami sendiri." Semangat inilah yang membuat program kedekatan teritorial ini sukses: bukan sekadar memberi, tapi membangun kemandirian di desa pegunungan.
Malam di Kampung Hom-Hom kini berbeda. Cahaya lampu menerangi senyum warga, suara air sungai berbaur dengan tawa anak-anak yang asyik bermain di bawah terang. Inilah wujud kedekatan program dengan kehidupan nyata—bukan proyek sesaat, melainkan harapan yang terus menyala. Bersama, kita bisa membawa terang hingga ke sudut-sudut negeri yang paling terpencil sekalipun. Dan di Hom-Hom, terang itu kini menjadi milik mereka selamanya.