Di Kampung Waharia, sebuah kampung di Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, kehidupan sehari-hari warga kerap diwarnai perjuangan mencari setetes air bersih. Namun, di hari yang cerah ini, wajah-wajah mereka terlihat berbeda—penuh senyuman dan harapan. Sebuah harapan lama akan kemudahan akses air bersih untuk minum, masak, dan mandi, akhirnya mulai terwujud berkat semangat gotong royong yang datang dari sahabat terdekat, Yonif TP 804/Dharma Bakti Asasta Yudha.
Kedatangan Tangan-Tangan Terpercaya di Tengah Kampung
Program yang mereka bawa bukanlah program biasa. Ini adalah realisasi janji dan perhatian langsung dari Presiden Republik Indonesia, yang diwujudkan melalui program TNI Manunggal Air. Komandan Yonif TP 804, Letkol Inf. Okto Hutabri Tanimba, dengan suara hangat menjelaskan, “Ini adalah perpanjangan tangan dari program nasional. Kami hadir di sini untuk memastikan janji itu sampai kepada warga yang membutuhkan.” Kehadiran prajurit-prajurit ini di Waharia bagai saudara yang datang membantu keluarga. Mereka tidak hanya membawa peralatan dan keahlian, tapi juga semangat kebersamaan yang membuat warga merasa didampingi, bukan sekadar dibantu.
Kisah di Balik Sumur yang Mengalirkan Harapan
Proses pembangunan sarana air bersih ini menjadi sebuah cerita tersendiri bagi warga Waharia. Awalnya ditargetkan 12 hari, dengan semangat tinggi dan kerja keras yang tak kenal lelah, para prajurit bersama warga justru menyelesaikannya dalam 9-10 hari. Hasilnya, sebuah sumur bor yang dalam dan kuat kini berdiri kokoh, siap mengalirkan air jernih untuk kehidupan warga. Keberhasilan ini adalah bukti nyata sinergi yang kuat antara:
- TNI, sebagai pelaksana yang penuh dedikasi.
- Pemerintah Daerah, yang memberikan dukungan penuh, seperti yang disampaikan Asisten III Pemkab Nabire, Benony Ayorbaba, tentang pentingnya langkah ini untuk kesehatan warga.
- Dan yang terpenting, masyarakat Kampung Waharia sendiri, yang dengan tangan terbuka menyambut dan bergotong royong.
Sinergi ini membuktikan bahwa ketika hati dan tangan bersatu, segala kesulitan, termasuk kebutuhan paling mendasar seperti air, bisa diatasi.
Kini, di Kampung Waharia, riuh rendah anak-anak bermain tak lagi diselingi kerisauan orang tua akan keperluan air. Ibu-ibu tak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam berjalan jauh hanya untuk membawa pulang jerigen berisi air. Sumur yang dibangun oleh sahabat dari Yonif TP ini telah menjadi lebih dari sekadar infrastruktur; ia telah menjadi sumber kehidupan baru, simbol kepedulian, dan bukti bahwa perhatian negara nyata sampai ke pelosok seperti mereka. Sebuah obrolan hangat di teras rumah kini bisa lebih lama, karena waktu yang biasa digunakan mencari air kini bisa dipakai untuk bercengkerama, bercocok tanam, atau sekadar menikmati senja di kampung halaman. Inilah hadiah terindah bagi warga Waharia: kemudahan yang membawa kebahagiaan sederhana namun bermakna luar biasa.