Di sebuah pelosok Kabupaten Lebong, Bengkulu, hiduplah desa yang tiap musim hujan bagai terputus dari dunia. Namanya Desa Sumber Sari. Sungai yang biasanya tenang berubah menjadi deras dan ganas, membuat jalan utama terendam banjir. Yang paling terpukul adalah anak-anak sekolah. Mereka terpaksa menyeberangi sungai dengan risiko tinggi, atau memutar jauh hingga tiga kilometer, seringkali terlambat sampai ke sekolah. Tapi kini, cerita sedih itu mulai berubah. Ada secercah harapan yang hadir lewat tangan-tangan hangat prajurit TNI.
Gotong Royong Membangun Jembatan Impian
Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 menjadi jawaban atas doa warga. Selama 30 hari, prajurit TNI bersama masyarakat bergotong royong membangun jembatan gantung sepanjang 45 meter. Letnan Kolonel Inf. Agus Wibowo, Dansatgas TMMD, bercerita dengan penuh semangat, 'Kami ingin anak-anak tidak takut lagi berangkat sekolah. Ini investasi masa depan.' Semangat kebersamaan terasa begitu kental. Warga bahu-membahu membawa bambu dan batu dari hutan, sementara TNI menyediakan tenaga ahli dan peralatan. Tak hanya fisik, tapi juga hati yang teranyam erat.
- Jembatan gantung kokoh sepanjang 45 meter menghubungkan desa dengan akses utama.
- Anak-anak tak perlu lagi menyeberangi sungai deras atau memutar jauh.
- Proses pembangunan selama 30 hari penuh gotong royong dan kedekatan antara TNI dan warga.
- Program ini sekaligus menjadi simbol semangat membangun desa terisolasi.
Senyum Siti dan Harapan Baru Anak Sekolah
Siti (9 tahun), salah satu murid SD di desa itu, dulu sering terlambat karena harus memutar tiga kilometer melewati jalan becek. Kini, dengan jembatan baru, ia bisa berangkat sekolah tepat waktu. Matanya berbinar sambil memegang tali jembatan, 'Terima kasih Bapak TNI, sekarang saya bisa sekolah tepat waktu.' Cerita Siti mewakili puluhan anak lain yang kini tak lagi waswas saat musim hujan tiba. Program TMMD tak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menumbuhkan kedekatan antara prajurit dan masyarakat. Warga merasakan langsung kehadiran TNI sebagai saudara yang peduli.
Kini, Desa Sumber Sari tak lagi merasa terisolasi. Jembatan gantung itu bukan sekadar struktur besi dan kayu, melainkan jalinan kasih dan semangat gotong royong yang tak pernah padam. Anak-anak bisa berlari riang menuju sekolah, tanpa takut banjir. Para orang tua pun lega, karena masa depan buah hati mereka lebih terjamin. Semoga semangat kebersamaan ini terus bersemi di setiap desa terpencil di Indonesia. Karena ketika TNI dan rakyat bersatu, tak ada gunung yang terlalu tinggi, tak ada sungai yang terlalu deras.