Angin laut di Kepulauan Selayar selalu membawa cerita. Di Kelurahan Batangmata Sapo, harum ikan asin bercampur dengan tawa anak-anak bermain di tepi pantai, sementara di kejauhan, perahu nelayan perlahan mendekat membawa hasil tangkapan. Di tengah kesederhanaan hidup yang penuh ketulusan ini, datanglah tamu-tamu istimewa dari Posal Selayar. Mereka bukan datang dengan gebrakan, melainkan dengan senyuman dan tangan terbuka, siap bergotong royong menyatu dengan denyut nadi warga desa. Inilah Program TMMD ke-128 Kodim Selayar, sebuah bentuk pengabdian TNI AL yang menyentuh langsung kehidupan warga, membuktikan bahwa pembangunan desa sejatinya dibangun dari kehadiran yang meneduhkan dan kebersamaan yang tulus.
Ketika Hijau Seragam Menyapa dengan Senyuman di Pesisir
Dipimpin oleh Lettu Marinir Asbullah, para prajurit TNI AL ini turun ke Batangmata Sapo dengan satu niat: hadir di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya datang untuk bekerja, tetapi juga untuk hidup sejenak, merasakan hembusan angin laut yang sama, mendengarkan keluh kesah para nelayan sepulang melaut, dan berbagi cerita di bawah rindangnya pohon kelapa. Sinergi yang terjalin terasa begitu alami. Saat menggali sumur bor untuk menyediakan air bersih, yang terdengar bukan cuma deru mesin, tapi juga obrolan hangat tentang musim ikan dan harga kopra. Saat mereka dan warga bersama-sama memperbaiki jalan setapak, yang terlihat bukan sekadar batu dan tanah yang disusun, melainkan tawa canda antara prajurit seperti Serda Yusron dan Kopka Isnaini dengan warga yang kini telah seperti saudara sendiri. Komandan Posal menegaskan, inilah wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat, hubungan yang tumbuh subur dari kehadiran yang ikhlas dan pengabdian tanpa batas.
Hasil Gotong Royong: Lebih dari Sekadar Jalan dan Rumah
Kolaborasi hangat antara personel TNI AL dan warga Batangmata Sapo ini menghasilkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar bangunan fisik. Setiap tetes keringat yang jatuh bersama-sama telah merajut ikatan yang kuat dan memenuhi kebutuhan warga dengan penuh empati:
- Mereka bersama-sama membangun jalan usaha tani yang lebih mulus, memudahkan warga mengangkut hasil bumi dari kebun. Beban sehari-hari pun terasa lebih ringan.
- Mereka merehabilitasi rumah warga yang kurang layak, memberikan rasa aman dan tempat beristirahat yang nyaman setelah seharian berjuang di laut atau ladang.
- Yang paling berkesan, mereka menjalin percakapan dan kebersamaan di sela pekerjaan, yang melahirkan saling pengertian mendalam tentang kehidupan, harapan, dan tantangan warga kepulauan Selayar.
Keberhasilan pembangunan desa dalam program TMMD ini diukur bukan hanya dari meteran jalan, tetapi dari eratnya ikatan batin dan tumbuhnya rasa percaya di hati warga. Setiap palu yang ditabuh, setiap tanah yang digali, adalah simbol komitmen bersama untuk memajukan tanah air, dimulai dari desa yang paling dekat dengan laut ini.
Di ujung kegiatan, yang tertinggal di Batangmata Sapo bukan cuma infrastruktur yang lebih baik. Yang melekat kuat di sanubari warga adalah kenangan hangat tentang saudara-saudara dari TNI AL yang pernah datang, berbagi keringat, mendengarkan cerita, dan bekerja bahu-membahu. Kolaborasi lintas matra TNI dalam TMMD ini menunjukkan bahwa membangun Indonesia adalah tugas kolektif yang penuh hati. Sebuah sinergi yang dimulai dari mendengar, lalu bergerak bersama, meninggalkan jejak bukan hanya di tanah, tetapi terpatri dalam ingatan dan rasa kebersamaan yang akan terus tumbuh, bagai pohon kelapa yang kokoh di tepi pantai Selayar.