Suara riuh anak-anak bermain dan derap langkah warga yang hendak ke sawah menjadi latar pagi yang cerah di Kampung Waninggap Say, Merauke. Namun, hari itu ada yang berbeda. Beberapa sosok berpakaian rapi tanpa atribut tempur justru tampak berjalan menyusuri pematang, sesekali berhenti mencatat, dan berbincang akrab dengan para tetua kampung. Mereka adalah Tim dari Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) yang dipimpin langsung oleh Kolonel Inf Agus Wuryanto. Selama tiga hari, tim ini melakukan peninjauan ke titik-titik pembangunan infrastruktur—dari jembatan yang menghubungkan antar dusun hingga sumur bor yang menjadi sumber air bersih—untuk memastikan semua yang dibangun benar-benar bermanfaat bagi warga.
Bukan Sekadar Tinjauan, Tapi Dengarkan Cerita Warga
Di bawah rindangnya pohon kelapa, Kolonel Agus duduk bersama Kepala Kampung Baad dan tokoh masyarakat. Dengan buku catatan di tangan, ia mendengarkan keluh kesah serta harapan warga. “Kami tidak mau membangun tanpa mendengar suara bapak-ibu. Setiap jembatan harus kokoh agar anak-anak bisa ke sekolah dengan aman, setiap sumur bor harus mengalirkan air bersih agar ibu-ibu tidak lagi berjalan jauh,” ujarnya dengan nada hangat. Tim Seskoad juga didampingi oleh Babinsa setempat yang sudah akrab dengan warga, sehingga suasana obrolan terasa seperti kumpul keluarga besar.
Warga pun bercerita tentang bagaimana sinergi antara TNI dan masyarakat desa selama ini berjalan. Gotong royong membangun jalan, membersihkan lokasi sumur, hingga menjaga lingkungan sekitar menjadi bukti bahwa program ini lahir dari kebutuhan nyata. “Kami sangat bersyukur, bukan hanya bangunannya yang diberikan, tapi perhatian dan kedekatan yang membuat kami merasa tidak sendiri,” ujar Pak Markus, salah satu tokoh pemuda di Semangga Jaya.
Jembatan dan Sumur Bor: Dua Nafas Baru bagi Kehidupan Desa
Setelah berkeliling, tim mendata setiap progres dan kendala di lapangan. Hasilnya? Tidak ada proyek yang mangkrak. Setiap jembatan yang dibangun sudah bisa dilalui kendaraan roda dua dan pejalan kaki. Sementara sumur bor di Kampung Waninggap Say dan Baad sudah menghasilkan air bersih yang jernih. Bagi warga, ini bukan sekadar infrastruktur; ini adalah jalan menuju masa depan yang lebih cerah.
- Jembatan membuat mobilitas menjadi mudah: anak-anak tak lagi terlambat sekolah, petani bisa mengangkut hasil panen tanpa khawatir.
- Sumur bor menghadirkan air bersih: ibu-ibu bisa mencuci dan memasak dengan tenang, risiko penyakit kulit dan diare berkurang drastis.
- Sinergi TNI dan warga menciptakan rasa memiliki: setiap program dijaga dan dirawat bersama-sama, bukan sekadar proyek yang selesai lalu ditinggalkan.
Di akhir kunjungan, Kolonel Agus berpesan agar semangat gotong royong terus dipelihara. “Kami pulang dengan banyak pelajaran. Peninjauan ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk belajar dari kearifan lokal dan memastikan apa yang kami bangun benar-benar menyentuh kehidupan,” katanya sambil menjabat tangan satu per satu warga yang hadir.
Matahari mulai condong ke barat, namun kehangatan tetap menyelimuti Kampung Waninggap Say, Baad, dan Semangga Jaya. Tim Seskoad melangkah pergi meninggalkan jejak berupa jembatan yang kokoh, sumur yang mengalir, dan yang terpenting: rasa percaya bahwa TNI selalu dekat, selalu mendengar, dan selalu bersama warga desa. Karena pembangunan sejati bukanlah bangunan megah, melainkan cerita perjuangan dan kebersamaan yang terus hidup di hati setiap orang.