Suara tawa riang terdengar dari persawahan Desa Rohayu, Kecamatan Kedungdung, Sampang. Pagi yang cerah itu tak hanya diisi dengan kicau burung, tetapi juga semangat gotong royong yang hangat. Di tengah hamparan lumpur dan bibit padi yang hijau, ada sosok seragam hijau yang berdampingan dengan warga. Ia adalah Sertu Gunarso, Babinsa Koramil 0828/10, yang hari itu memilih cangkul sebagai 'senjata' utamanya. Bukan untuk berlatih perang, melainkan untuk menanam harapan di tanah yang menjadi nadi kehidupan warga desa.
Dari Senjata ke Cangkul: Bukti Kedekatan yang Nyata
Sebagai Babinsa, Sertu Gunarso dikenal warga bukan sebagai sosok yang jauh dan formal. Komitmennya terhadap kesejahteraan warga binaan diwujudkan dengan cara yang paling sederhana: turun langsung ke sawah. Ia tak segan menggenjot lumpur, memegang bibit, dan ikut serta dalam setiap tahap penanaman padi, mulai dari persiapan lahan. "Kehadiran kami di sini mencakup semua aspek," ujarnya dengan senyum ramah, sambil membersihkan tangan dari tanah. Baginya, mendukung hasil pertanian warga adalah bagian tak terpisahkan dari tugas teritorial. Upaya ini adalah wujud nyata dari dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional, yang dimulai dari akar rumput di Sampang.
Matahari semakin tinggi, namun semangat tak kendur. Warga Desa Rohayu, yang biasanya bekerja sendiri-sendiri di petak sawah masing-masing, merasa ada energi baru. Keterlibatan langsung prajurit TNI ini seperti angin segar yang membawa motivasi. Mereka melihat bagaimana nilai-nilai gotong royong dan kepedulian dihidupkan kembali, tidak melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan. Kerjasama di ladang ini telah menjadi ruang obrolan yang cair, di mana cerita tentang keluarga, tantangan bertani, dan harapan untuk panen yang baik saling bertaut.
Menanam Padi, Memanen Kebersamaan dan Kemandirian
Setiap bibit padi yang ditanam bersama Sertu Gunarso dan warga bukan sekadar tanaman. Ia adalah simbol dari benih ketahanan dan kemandirian pangan yang sedang dirawat bersama. Harapannya jelas: agar hasil panen yang meningkat nanti dapat memperkuat ketahanan pangan di wilayah Kedungdung. Kegiatan ini memberikan manfaat yang jauh lebih dalam daripada sekadar bantuan tenaga:
- Motivasi dan Semangat Baru: Warga merasa didukung dan dihargai, sehingga semangat mengolah lahan semakin membara.
- Sinergi yang Membumi: Tercipta hubungan yang erat dan alami antara TNI dan masyarakat, jauh dari kesan birokrasi.
- Edukasi Praktis: Kehadiran Babinsa juga menjadi momen berbagi praktik bertani yang baik, memperkuat pengetahuan lokal.
- Penguatan Rasa Memiliki: Program ketahanan pangan menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah.
Suasana keakraban ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan dibangun dari hal-hal sederhana: kehadiran, empati, dan kesediaan untuk berkeringat bersama. Warga seperti Pak Darmo, salah satu petani senior, mengungkapkan rasa terharunya. "Dulu hanya lihat Bapak-bapak TNI lewat. Sekarang malah diajak nanam bersama. Rasanya kami tidak sendiri," katanya sambil menyiram bibit padi yang baru ditanam.
Sebagai penutup hari yang penuh makna, lumpur di kaki dan caping di kepala telah menjadi bukti nyata dari sebuah ikatan. Program kedekatan teritorial seperti ini bukan tentang angka atau laporan, melainkan tentang cerita yang tertanam di hati warga Desa Rohayu. Ketika Babinsa dan warga berdiri berdampingan di sawah, mereka sedang menulis sebuah narasi indah tentang gotong royong dan harapan. Setiap helai padi yang nanti menguning akan menjadi pengingat akan pagi itu, di mana ketahanan pangan di Sampang ditumbuhkan dengan hati, cangkul, dan senyuman penuh kebersamaan. Semoga panen yang datang nanti bukan hanya memenuhi lumbung, tetapi juga memperkaya jiwa persaudaraan di desa ini.