Suasana Balai Desa Sukamaju pagi itu terasa berbeda. Puluhan petani dengan baju lapangan dan topi caping berkumpul, tak sabar mengikuti pelatihan pertanian organik yang digelar Babinsa Koramil 0801 bersama Dinas Pertanian. Di tengah terik matahari, semangat gotong royong dan rasa ingin tahu membuncah. Mereka bukan sekadar belajar teori, tapi diajak langsung mempraktikkan cara membuat pupuk kompos dari limbah rumah tangga dan pestisida alami. Senyum dan tawa mewarnai acara, menandakan bahwa perubahan baik tengah dimulai di desa ini.
Belajar Bikin Pupuk, dari Sampah Jadi Berkah
Sertu Aldi, Babinsa yang memandu pelatihan, dengan sabar menjelaskan langkah-langkah pembuatan kompos. "Kami ingin petani tidak bergantung pada pupuk kimia yang mahal. Dengan organik, tanah juga lebih sehat," ujarnya. Para peserta pun antusias mengikuti praktik membuat kompos dari kotoran kambing dan sisa sayuran. Tak ketinggalan, mereka meracik pestisida nabati dari daun pepaya dan bawang putih—ramuan sederhana yang mampu mengusir hama tanpa merusak ekosistem. Pelatihan ini menjadi ajang berbagi ilmu yang hangat, di mana petani saling membantu dan bertukar cerita tentang lahan mereka.
Kisah Pak Karto: Hemat Biaya, Tanah Lebih Sehat
Salah satu peserta, Pak Karto, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Dulu beli pupuk terus, sekarang bisa bikin sendiri dari kotoran kambing, lumayan hemat biaya," katanya sambil tersenyum. Ia mengaku baru pertama kali tahu cara membuat pupuk organik dan pestisida alami. Melalui pelatihan ini, banyak petani lain pun merasakan manfaat serupa:
- Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya melambung
- Mengolah limbah rumah tangga dan kotoran ternak menjadi kompos berkualitas
- Menekan biaya produksi hingga separuhnya
- Menjaga kesehatan tanah dan keberlanjutan pertanian
- Memperkuat kemandirian petani dengan pengetahuan baru
Bagi warga Desa Sukamaju, pelatihan ini bukan sekadar acara seremonial. Program teritorial TNI hadir sebagai wujud nyata kedekatan Babinsa dengan warga. Mereka berkomitmen mendampingi petani hingga benar-benar mandiri, dari proses pembuatan pupuk hingga panen. Langkah kecil ini diharapkan mampu meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan desa. Saat mentari semakin tinggi, petani pulang dengan senyum dan segenggam ilmu baru. Dukungan dari TNI dan dinas terkait menjadi penyemangat bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Gotong royong, saling berbagi, dan kerja keras adalah kunci agar bumi Sukamaju tetap subur dan warganya sejahtera. Inilah makna kedekatan teritorial yang sesungguhnya: bukan hanya memberi, tapi juga tumbuh bersama.
Di balai desa, perbincangan hangat masih terdengar. Ada rencana untuk mengadakan pelatihan lanjutan, agar setiap petani mampu memproduksi pupuk sendiri secara rutin. Dengan semangat kebersamaan, warga yakin bahwa pertanian organik bukan hanya mimpi. Ini adalah langkah nyata menuju kehidupan yang lebih baik. Terima kasih untuk Babinsa dan semua pihak yang peduli. Dari kotoran kambing dan daun pepaya, harapan baru tumbuh di setiap sudut desa.