Di ujung negeri Kalimantan, di sebuah desa bernama Long Midang, Kabupaten Malinau, kehidupan berjalan lambat namun penuh perjuangan. Di sini, di perbatasan Indonesia-Malaysia, rimbunnya hutan menjadi saksi bisu dari keterbatasan akses warga terhadap layanan kesehatan. Jalanan yang hanya bisa ditempuh dengan perahu selama tiga jam membuat puskesmas terasa seperti di ujung dunia. Tapi pagi itu, suasana desa mendadak hangat. Bukan karena mentari, melainkan karena kedatangan prajurit TNI dari Satgas Pamtas Yonif 611/Kalimantan yang membawa mobil siaga dan semangat gotong royong. Mereka hadir bukan sebagai tentara, melainkan sebagai saudara yang datang membantu.
Kisah di Balik Hutan Kalimantan: TNI dan Posyandu Keliling
Tak ada gedung megah atau alat canggih. Yang ada hanyalah sebuah posyandu keliling sederhana—sebuah klinik berjalan di tengah belantara. Dengan peralatan seadanya, tim medis TNI yang dipimpin Serka Kurnia mulai memeriksa warga satu per satu. Total 87 orang, mulai dari ibu hamil hingga balita, mendapat pelayanan gratis. Bagi warga yang biasanya harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan untuk sekadar cek tensi atau imunisasi, hari itu adalah hari yang istimewa. “Biasanya saya harus ke puskesmas 3 jam naik perahu. Sekarang TNI yang datang ke desa kami, sungguh luar biasa,” ujar Ibu Anita, seorang ibu muda, dengan mata berkaca-kaca. Program ini bukan sekadar pemeriksaan, tapi bukti nyata bahwa di perbatasan Kalimantan, kebaikan masih bisa hadir dari seragam loreng.
Berikut adalah manfaat langsung yang dirasakan warga dari program ini:
- Pemeriksaan kesehatan gratis untuk 87 warga, termasuk ibu hamil, balita, dan lansia.
- Imunisasi campak untuk 15 balita—sebuah langkah kecil yang mencegah penyakit di daerah terpencil.
- Pembagian vitamin untuk lansia, menjaga daya tahan tubuh di tengah terbatasnya gizi.
- Konseling kebersihan dan gizi yang disampaikan dengan bahasa akrab, mudah dipahami oleh setiap warga desa.
Imunisasi Pertama yang Penuh Haru
Di sela-sela keramaian, ada momen yang tak terlupakan. Ibu Anita, yang tinggal di tepian sungai, akhirnya bisa memberikan imunisasi campak pertama untuk balitanya. Selama ini, ia hanya bisa berharap, karena jarak dan biaya menjadi penghalang. Kini, TNI yang datang langsung ke rumahnya, tanpa pamrih. Serka Kurnia tak henti-hentinya memberikan perhatian penuh pada setiap pasien. “Senang bisa membantu saudara kita di sini, meskipun fasilitas terbatas, kami berusaha maksimal,” katanya sambil tersenyum. Kehadiran posyandu keliling ini bukan hanya tentang kesehatan, tapi juga tentang kedekatan hati antara prajurit dan warga. Di desa yang sering dilupakan ini, gotong royong masih hidup, dan rasa kebersamaan menjadi obat yang paling mujarab.
Dan saat matahari mulai merambat turun, meninggalkan desa yang kini terasa lebih bernyawa, Ibu Anita dan warga lain melambai penuh syukur. Di perbatasan Kalimantan ini, TNI telah menuliskan cerita indah tentang gotong royong dan kasih sayang. Warga desa tak lagi merasa sendiri, karena di balik seragam loreng, ada hati yang selalu siap melayani. Posyandu keliling memang sederhana, tapi hangatnya menyentuh jiwa. Semoga kebaikan seperti ini terus mengalir, menghubungkan setiap sudut negeri, dan mengingatkan kita bahwa di mana pun berada, kita semua adalah saudara.