Di lereng Gunung Merapi yang selalu setia menyapa dengan hembusan abu vulkaniknya, Desa Umbulharjo, Sleman, pagi itu terasa berbeda. Para petani yang sejak subuh sudah sibuk di ladang, tiba-tiba berhenti sejenak. Ada kabar gembira yang berhembus: pemerintah bersama TNI AD akan menyalurkan bantuan pupuk organik. Wajah-wajah letih berubah cerah, karena selama ini pupuk bersubsidi sulit didapat, dan tanah vulkanik harus terus dirawat agar tetap subur. Pak Jono, ketua kelompok tani setempat, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. “Bantuan pupuk organik ini sangat membantu, Mbak, Mas. Tanah kami butuh nutrisi alami supaya tanamannya kuat,” ujarnya sambil memandangi karung-karung pupuk yang mulai diturunkan dari truk.
Dari Abu Vulkanik Menjadi Harapan Baru
Seperti akar yang mencari air, para petani Merapi selalu berjuang menyuburkan lahannya. Abu vulkanik memang kaya mineral, tapi tanpa pupuk yang tepat, hasil panen tak maksimal. Bantuan 10 ton pupuk organik dari Kementerian Pertanian ini menjadi oase di tengah kesulitan. Acara seremonial di balai desa berlangsung sederhana namun khidmat, dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Namun, yang paling menghangatkan hati adalah saat prajurit Kodim 0732/Sleman turun langsung membantu membongkar dan membagikan pupuk ke lahan pertanian. Mereka bukan sekadar menyerahkan, tapi ikut memikul, mendorong gerobak, hingga bercengkrama dengan warga.
- Pupuk organik membuat tanah vulkanik lebih gembur dan mudah diolah.
- Tanaman jadi lebih tahan terhadap hama dan cuaca ekstrem.
- Petani tak perlu khawatir soal harga pupuk kimia yang mahal atau langka.
- Hasil panen lebih sehat dan ramah lingkungan bagi warga desa.
TNI dan Petani: Gotong Royong di Lereng Merapi
Kedekatan antara TNI dan warga desa bukanlah cerita baru. Di Umbulharjo, kehadiran para prajurit selalu disambut hangat. Kali ini, mereka menunjukkan bahwa program ketahanan pangan nasional bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan aksi nyata yang menyentuh tanah. “Kami hadir untuk mendampingi petani, bukan hanya hari ini, tapi terus menerus,” ujar salah satu anggota Kodim. Warga pun bergantian menimba air, menyiapkan kopi, dan bersama-sama mengangkut pupuk ke ladang-ladang yang tersebar di lereng. Semua bekerja tanpa pamrih, seperti keluarga besar yang sedang panen bersama.
Hari mulai siang saat pupuk terakhir diantarkan ke petak sawah milik Mbah Karyo, petani tua yang sudah puluhan tahun mengolah tanah Merapi. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, “Semoga bantuan ini terus berlanjut, Nak. Hidup kami di sini memang dari tanah, dan tanah ini ibu kami.” Ungkapan sederhana itu menggema di antara semilir angin pegunungan. Bantuan ini bukan sekadar 10 ton pupuk organik, melainkan wujud bahwa pemerintah dan TNI benar-benar peduli pada petani yang setiap hari berpeluh di lereng Merapi. Di tengah keterbatasan, gotong royong dan kebersamaan tetap menjadi pupuk paling subur bagi desa ini. Semoga kehangatan seperti ini terus mengalir, seperti lava yang perlahan menyuburkan, bukan menghanguskan.