Pagi masih menyisakan kabut tipis di lereng Pegunungan Arfak, saat sekelompok warga Distrik Sururey sudah berkumpul dengan cangkul dan linggis di tangan. Di antara mereka, tampak personel Satgas TNI berbaur tanpa sekat—bahu-membahu memulai hari dengan pekerjaan berat: merintis jalan usaha tani sepanjang 7 kilometer. Selama ini, untuk menjual hasil bumi seperti sayur kol dan wortel, warga harus menempuh perjalanan kaki hingga 4 jam menembus hutan lebat menuju pasar ibu kota distrik. Tak jarang, hasil panen harus dipikul sendiri karena medan terjal tak bisa dijangkau kendaraan. Namun hari itu, semangat gotong royong terasa begitu hangat. Ada harapan baru yang mulai tumbuh di tanah merah Arfak.
Gotong Royong di Lereng Arfak: Tangan TNI dan Petani Bersatu
Komandan Korem 181/PVT, Kolonel Inf Budi Santoso, tak sekadar memberi instruksi dari jauh. Ia turun langsung ke lokasi, menyingsingkan lengan, dan ikut mencangkul bersama warga. “Kami ingin akses ekonomi warga terbuka lebar. Jalan ini bukan sekadar aspal dan batu, tapi harapan bagi petani kami di sini,” ujarnya dengan suara bersemangat di tengah keringat yang bercucuran. Pemandangan seperti ini bukan hal biasa di pegunungan terpencil. Warga yang biasanya hanya melihat TNI dari kejauhan, kini merasakan kedekatan yang nyata. Pak Yosep, salah seorang petani lokal, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. “Dulu kami pikir jalan ini hanya mimpi. Sekarang, bersama TNI, mimpi itu mulai jadi nyata,” katanya sambil mengayunkan cangkul.
Jalan Harapan Menuju Pasar
Pekerjaan pembangunan jalan usaha tani ini ditargetkan rampung dalam tiga bulan ke depan. Setelah jalan selesai, bukan hanya mobilitas warga yang berubah, tapi juga roda perekonomian desa. Berikut manfaat yang akan langsung dirasakan warga Distrik Sururey:
- Waktu tempuh ke pasar berkurang drastis dari 4 jam menjadi sekitar 1 jam dengan kendaraan roda dua atau roda empat.
- Biaya transportasi hasil bumi lebih murah, sehingga petani bisa menjual sayuran dengan harga lebih kompetitif.
- Sayuran segar tak lagi membusuk di perjalanan, karena distribusi jadi lebih cepat.
- Akses ke layanan kesehatan dan pendidikan juga ikut terbuka lebar—jalan ini bukan cuma untuk jualan, tapi juga untuk kehidupan sehari-hari.
Tak hanya jalan, rencana selanjutnya adalah bantuan bibit sayuran unggul dari Kodim setempat. Program ini akan memperkuat produktivitas kebun warga, sehingga hasil panen melimpah dan berkualitas. Pemerintah daerah juga berkomitmen mendukung pemasaran agar petani Arfak tak lagi bergantung pada tengkulak.
Langit di atas Pegunungan Arfak perlahan cerah. Jalan yang baru dirintis masih berupa tanah merah dan bebatuan, namun bagi warga Sururey, itu adalah pita harapan yang menghubungkan mereka dengan masa depan yang lebih baik. TNI hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai saudara yang ikut mencangkul, ikut bermimpi, dan ikut berjuang. Dan di balik setiap ayunan cangkul, ada doa-doa kecil warga yang menggantung: semoga jalan ini terus membawa kebaikan, dari kebun ke pasar, dari hati ke hati.