Pagi itu, sinar mentari mulai menyapa perkampungan di Halmahera Utara. Di salah satu sudut desa, sekelompok anak muda yang biasanya sibuk dengan gawai kini sibuk mencangkul dan memeriksa tanaman cabai. Pemandangan ini mungkin jarang terlihat beberapa waktu lalu, ketika para pemuda desa lebih memilih merantau ke kota besar seperti Manado, menganggap bertani bukanlah masa depan. Tapi kini, angin segar berhembus dari inisiatif TNI melalui Korem 132/Tdl yang meluncurkan Program 'Tani Milenial'. Program ini bukan sekadar ajakan bertani, melainkan sebuah gerakan untuk membangkitkan kembali semangat generasi muda mengelola lahan tidur yang selama ini terbengkalai.
Dari Lahan Tidur Jadi Ladang Harapan
Komandan Korem 132/Tdl, Brigjen TNI Dedi Suryadi, mengungkapkan bahwa program ini dirancang khusus untuk pemuda berusia 18–35 tahun. “Kita bekali mereka dengan ilmu pertanian modern, bibit unggul, dan akses pasar,” ujarnya dengan penuh semangat. Sejak dimulai, program sudah menjangkau empat desa dengan total area lahan 50 hektar yang sebelumnya tidak produktif. Para peserta tidak hanya diajari cara bercocok tanam, tetapi juga dilatih membuat pupuk organik dan menggunakan teknologi irigasi sederhana yang mudah diterapkan. Berikut manfaat yang dirasakan langsung oleh petani muda di Halmahera:
- Bibit unggul yang tahan hama dan cepat panen disediakan secara gratis.
- Pelatihan pupuk organik dari bahan lokal mengurangi biaya produksi.
- Teknologi irigasi tetes memudahkan penyiraman di musim kemarau.
- Akses pasar langsung ke pasar kota melalui koperasi desa.
Hasilnya pun mulai terlihat nyata. Beberapa komoditas seperti cabai dan tomat sudah berhasil dipanen dan dijual ke pasar-pasar di kota. Hal ini membuktikan bahwa lahan tidur bisa menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan bagi petani muda di Halmahera, sekaligus mendorong swasembada pangan dari tingkat desa.
Para Babinsa, Sahabat Baru Petani Muda
Salah satu kisah inspiratif datang dari Yoga, pemuda berusia 22 tahun asal desa setempat. Awalnya ia bermimpi merantau ke Manado untuk mencari pekerjaan, tapi setelah bergabung dengan program Tani Milenial, pikirannya berubah total. “Saya dulu malu jadi petani, sekarang saya bangga. Saya bisa panen sendiri dan hasilnya laku di kota,” tuturnya dengan senyum lebar. Yoga kini menjadi koordinator kelompok tani muda di desanya, membagi ilmu kepada teman-teman sebaya yang juga mulai tertarik. Cerita Yoga adalah contoh nyata bagaimana campur tangan TNI melalui program kedekatan teritorial mampu mengubah persepsi generasi muda terhadap sektor pertanian. Selain itu, para Babinsa rutin turun ke sawah untuk mendampingi, berdiskusi, dan bersama-sama memecahkan masalah di lapangan. Kedekatan ini membuat para pemuda merasa tidak sendirian dalam berjuang.
Program Tani Milenial membawa angin segar tidak hanya bagi peserta, tetapi juga bagi ketahanan pangan di pelosok. Dengan semakin banyak anak muda yang beralih ke pertanian modern, cita-cita swasembada pangan bukan lagi sekadar wacana. Lahan-lahan yang dulu terbengkalai kini mulai menghijau, dan desa-desa di Halmahera perlahan bangkit bersama semangat gotong royong. Inilah wujud nyata bahwa dengan tangan terentang dan hati terbuka, TNI dan petani muda bisa bergandengan membangun masa depan yang lebih cerah di bumi Halmahera.