Di Desa Tarikolot yang hijau, jauh dari riuh kota, mimpi sederhana para ibu-ibu tumbuh pelan-pelan di antara kebun singkong subur dan pohon mangga yang ranum berbuah. Sudah lama mereka bercita-cita mengolah hasil bumi desa menjadi keripik gurih dan dodol manis, namun selama ini impian itu seperti asap dapur pagi—terlihat indah, tapi sulit diwujudkan. Kekurangan modal dan pengetahuan mengelola usaha bersama membuat angan, berhenti di obrolan sore di balai desa.
Ketukan di Pintu Harapan dan Tangan yang Menuntun dengan Hangat
Perubahan datang ketika program pemberdayaan dari satuan teritorial TNI setempat menyapa warga. Mereka datang bukan seperti tamu resmi, melainkan seperti sanak yang datang mengulurkan tangan. Dengan hati yang mendengar, mereka paham bahwa yang dibutuhkan warga desa bukan sekadar uang, tapi pendampingan yang tulus dan kepercayaan. Di balai desa yang biasanya hening, kini penuh semangat. Para ibu yang semula malu-malu, perlahan berani bertanya, berdiskusi tentang perencanaan usaha dan pembukuan sederhana. Program ini menjadi semacam ‘sekolah kehidupan’ yang hangat, meyakinkan mereka bahwa potensi desa mereka luar biasa dan mereka sendiri mampu mengelolanya.
Koperasi "Sumber Rejeki": Benih yang Tumbuh Jadi Kebanggaan Bersama
Setelah berbulan-bulan belajar bersama, benih impian itu akhirnya berbuah manis. Koperasi “Sumber Rejeki” berdiri, menjadi kebanggaan seluruh desa. Usaha pengolahan hasil pertanian pun bergulir, didukung oleh proses kebersamaan yang tulus:
- Suntikan semangat dan modal awal: Mereka dapat bantuan untuk perlengkapan produksi, disertai pelatihan praktis mengelola koperasi.
- Pendampingan yang tak pernah padam: Tim satuan teritorial TNI tetap setia mendampingi, memastikan kualitas produk terjaga dan koperasi jalan lancar.
- Jalan menuju pasar luas: Keripik singkong dan dodol mangga khas Desa Tarikolot mulai dikenal, merambah pasar daerah hingga pesanan dari luar kabupaten.
Ibu Sari, ketua koperasi, dengan mata berbinar bercerita, “Dulu kami cuma ibu rumah tangga. Sekarang, kami bisa bilang kami punya usaha. Semua berawal dari teman-teman TNI yang percaya kami bisa.” Kata-katanya sederhana, tapi terasa dalam, membuktikan bahwa pemberdayaan yang tulus benar-benar bisa mengubah hidup warga desa. Cerita Desa Tarikolot ini mengingatkan kita, bahwa kemajuan ekonomi desa seringkali tumbuh dari kedekatan, bimbingan sabar, dan kepercayaan yang diberikan dengan hati. Di tengah kebun singkong yang subur, harapan kini bukan lagi sekadar mimpi, tapi kenyataan yang dinikmati bersama.