Di sebuah sudut Pulau Sebatik yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia, mentari senja perlahan tenggelam di balik laut lepas. Di bawah pohon kelapa yang rindang, sekelompok anak-anak nelayan duduk melingkar. Mereka bukan hanya bermain, tetapi tengah belajar membaca dan berhitung. Di sana, para prajurit TNI AL dari Pos Angkatan Laut setempat, dengan sabar dan penuh kehangatan, mengajarkan huruf dan angka kepada anak-anak pesisir yang setiap hari hidup di tepi ombak.
Prajurit TNI AL: Guru Sore di Pulau Terluar
Setiap petang, tanpa lelah, mereka menyisihkan waktu usai tugas. Letda Laut (S) Arianto, salah satu pengajar, bercerita dengan suara perlahan, “Kami tidak ingin mereka buta huruf.” Banyak anak di pulau terluar ini terpaksa putus sekolah karena harus membantu orang tua melaut. Namun, di bawah langit senja itu, dengan papan tulis lipat sederhana, para prajurit TNI AL berusaha mengubah nasib mereka. Anak-anak seperti Siti (9) kini sudah bisa menulis namanya sendiri. Senyumnya merekah setiap kali ia berhasil mengeja huruf demi huruf.
Manfaat Program yang Hangat untuk Warga Pesisir
- Belajar membaca dan berhitung — anak-anak yang tadinya tidak bisa menulis kini sudah bisa mengeja nama mereka sendiri.
- Bermain, menyanyi, dan cerita cinta tanah air — setiap sesi belajar selalu diisi dengan kegembiraan, sehingga anak-anak merasa seperti bermain, bukan sekadar belajar.
- Kedekatan antara prajurit dan warga — tak ada sekat antara seragam dan kehidupan sehari-hari. Warga desa sangat berterima kasih karena pendidikan anak-anak mereka terbantu.
- Menumbuhkan semangat gotong royong — para prajurit TNI AL tidak hanya mengajar, tetapi juga ikut dalam aktivitas warga, seperti melaut atau membantu nelayan.
Warga desa, seperti Pak Rahmat, seorang nelayan tua, tak dapat menyembunyikan rasa syukurnya. “Anak-anak kami jadi semangat sekolah. Mereka tidak lagi malu karena tidak bisa baca,” ujarnya sambil tersenyum. Para prajurit TNI AL pun merasakan kedekatan yang hangat, seakan mereka adalah bagian dari keluarga besar di pulau terluar ini.
Di bawah gemerlap bintang dan suara deburan ombak, kebersamaan antara prajurit dan warga terus terjalin. Semoga program membaca untuk anak-anak pesisir ini terus berjalan, dan setiap anak pulau terluar bisa meraih mimpi setinggi langit. Karena di balik seragam, ada hati yang peduli dan siap menuntun masa depan mereka.