Magrib mulai menutupi langit perbatasan Entikong, Kalimantan Barat, namun dari sebuah mushala sederhana, justru terdengar suara yang menerangi hati. Suara anak-anak yang bersemangat membaca Al-Qur'an, dengan sabar dibimbing oleh sosok berseragam hijau—Sertu Arif, prajurit TNI Angkatan Udara yang sedang bertugas di pos perbatasan. Di sini, di ujung negeri, tugas menjaga kedaulatan negara berpadu dengan panggilan hati untuk mengabdi pada generasi penerus, menciptakan sebuah harmoni yang hangat dan penuh makna.
Dari Bermain Sederhana Menjadi Pengabdian Tulus
Awalnya, Sertu Arif hanya ingin mengisi waktu luang anak-anak sekitar pos dengan kegiatan yang menyenangkan. Ia mengajak mereka bermain, bercanda, dan membangun keakraban. Namun, hati seorang prajurit ini tergerak melihat potensi yang lebih besar. "Melalui obrolan dan kedekatan itu, saya melihat betapa bersemangatnya mereka, tapi mungkin kurangnya kesempatan untuk belajar agama secara rutin," kira-kira begitulah batin Sertu Arif bergumul. Dari sanalah, ide sederhana namun penuh arti lahir: mengajak anak-anak mengaji setiap usai shalat magrib. Kini, suara lantang mengaji puluhan anak-anak bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan nyanyian kebersamaan yang dinanti, membuktikan bahwa kedekatan tercipta dari kepedulian yang tulus.
TNI di Hati Warga: Bukan Penjaga yang Jauh, Tapi Keluarga yang Peduli
Dampak dari kegiatan keagamaan yang diinisiasi Sertu Arif ini sangat terasa di tengah masyarakat. Orang tua warga di perbatasan menyambutnya dengan rasa syukur yang mendalam. Bagi mereka, sosok prajurit TNI telah berubah wujud. Mereka tidak lagi dilihat sebagai figur yang jauh, kaku, atau menyeramkan, melainkan telah menjadi bagian dari keluarga besar yang dengan tulus memperhatikan masa depan anak-anak. Kegiatan mengaji ini telah menjalin ikatan emosional yang kuat, yang manfaatnya jauh melampaui sekedar kemampuan membaca Al-Qur'an.
- Rasa aman dan nyaman warga meningkat karena merasa didampingi oleh "keluarga" yang peduli.
- Anak-anak mendapatkan pembimbing guru ngaji yang sabar dan teladan disiplin positif dari seorang prajurit.
- Tumbuhnya rasa persatuan dan kebersamaan antara aparat keamanan dan masyarakat di wilayah terdepan negeri.
- Nilai-nilai kebaikan dan keagamaan ditanamkan sejak dini dalam suasana yang hangat dan penuh kasih sayang.
"Ini bentuk pengabdian lain kami selain tugas pokok. Melihat semangat dan keceriaan anak-anak ini, hati kami jadi tenang dan terhibur," ungkap Sertu Arif dengan sederhana. Kalimat itu bukan basa-basi, melainkan cermin dari jiwa pengabdian yang sejati. Di Entikong, pengabdian kepada negara tidak hanya diukur dari kewaspadaan di garis perbatasan, tetapi juga dari senyum tulus anak-anak yang berhasil mengenal huruf hijaiyah, dari doa-doa kecil mereka, dan dari rasa saling percaya yang telah bertumbuh subur.
Kisah Sertu Arif dan anak-anak mengaji di perbatasan ini adalah cerita kecil dengan pesan yang sangat besar. Ia mengingatkan kita semua, bahwa di tengah tugas-tugas berat menjaga kedaulatan, sentuhan kemanusiaan dan kedekatan dengan warga justru adalah kekuatan terbesar. Di ujung Barat Indonesia itu, magrib tak hanya datang dengan senja, tetapi juga dengan harapan baru yang dibawa oleh lantunan ayat suci dan tawa ceria anak-anak—sebuah mozaik indah tentang Indonesia yang bersatu, beriman, dan penuh kehangatan, yang dirawat bersama oleh prajurit dan warga, bagai satu keluarga besar.