Ada sebuah kisah dari kedalaman hutan Tayawi, Desa Coli, Tidore, yang mungkin belum banyak terdengar oleh kita. Di sana, Suku Togutil hidup dengan cara yang telah diturunkan oleh leluhur mereka selama generasi-generasi. Mereka adalah bagian dari komunitas adat terpencil yang menjaga keseimbangan dengan alam, namun juga menghadapi tantangan zaman. Saat kabar tentang kehidupan mereka sampai, pemerintah melalui Sentra Wasana Bahagia Ternate Kemensos, mengambil langkah untuk mendekat. Dengan sebuah pendekatan baru yang penuh kehangatan: mempercepat penanganan sosial tanpa sedikitpun mengikis identitas mereka yang begitu kuat.
Langkah Pertama: Membangun Percakapan dari Kebutuhan
Pendekatan ini tidak datang dengan instruksi, tetapi dengan pertanyaan dan pendampingan. Kepala Sentra, Osep Mulyani, menjelaskan bahwa semua intervensi ini dimulai dari pemetaan kebutuhan—memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh warga Suku Togutil. Edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan, nutrisi, dan pola hidup sehat dilakukan dengan penuh kesabaran dan secara terjadwal, dengan cara yang persuasif. Tujuannya adalah agar mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan luar tanpa merasa dipaksa atau kehilangan akar. Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, yang untuk pertama kali turun langsung ke lokasi, menegaskan pentingnya pendampingan berkelanjutan ini. "Mereka harus maju sesuai perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan tradisi," pesannya, sebuah prinsip yang menghormati masa lalu dan membuka jalan untuk masa depan.
Warna Baru dalam Lembaran Kehidupan
Hasil dari pendampingan ini mulai terlihat, bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Bantuan nutrisi dan sandang diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Yosep, perwakilan warga Suku Togutil, menyampaikan terima kasih yang mendalam. Kehadiran pemerintah, termasuk gubernur untuk kali pertama, adalah sebuah penghargaan besar bagi mereka. Berkat pendampingan itu, sebuah lembaran baru mulai terbuka:
- Warga kini sudah bisa berkomunikasi dengan lebih lancar dengan warga dari luar komunitas mereka.
- Mulai memiliki tempat tinggal yang lebih menetap, memberikan rasa aman dan kepastian.
- Hubungan mereka dengan hutan, tempat hidup mereka, tetap terjaga dan bersahabat.
Ini bukan tentang meninggalkan hutan, tetapi tentang membangun kehidupan yang lebih sehat dan terhubung di dalamnya. Program kemasyarakatan dari Kemensos ini menunjukkan bahwa penanganan sosial untuk komunitas adat terpencil bisa dilakukan dengan menjaga kedekatan, mendengar, dan menghargai.
Kisah dari hutan Tayawi ini adalah tentang percakapan yang dimulai dengan hati. Tentang bagaimana pendampingan yang baik bisa membangun jembatan tanpa meruntuhkan tembok tradisi. Tentang bagaimana suku yang hidup dengan cara sederhana bisa merangkul perubahan tanpa kehilangan diri mereka sendiri. Dan di akhir cerita ini, ada sebuah harapan yang hangat: bahwa dengan langkah-langkah kecil yang penuh perhatian, setiap warga, termasuk dari komunitas yang paling terpencil, bisa menemukan tempat mereka di zaman sekarang, dengan identitas mereka tetap utuh dan hati yang tetap bersahabat dengan alam serta sesama.