Di Kampung Urum, Merauke, Papua Selatan, suasana haru dan hangat masih terasa ketika upacara penutupan Karya Bakti Skala Besar Tahun 2026 usai. Bukan sekadar bendera dan aba-aba yang mewarnai acara, tetapi juga momen makan bersama antara prajurit TNI Angkatan Darat dan warga kampung. Senyum dan tawa mengiringi setiap suapan, seolah menjadi simbol bahwa kerja keras selama ini bukan sekadar membangun fisik, melainkan juga merajut tali persaudaraan yang erat antara aparat dan rakyat di tanah Papua. Inilah bukti nyata bahwa sinergi antara TNI dan masyarakat mampu melahirkan perubahan yang dirasakan langsung oleh warga desa.
Jembatan, Air Bersih, dan Sekolah: Hadiah Nyata untuk Warga Kampung
Selama periode Karya Bakti, TNI AD telah mengerjakan berbagai proyek vital yang langsung menyentuh kebutuhan pokok warga. Dari pembangunan jembatan yang menghubungkan kampung-kampung terpencil, hingga penyediaan sumber air bersih dan sistem sanitasi, semua dilakukan dengan penuh gotong royong. Berikut beberapa manfaat yang dirasakan warga:
- Jembatan baru membuat petani bisa menjual hasil bumi ke pasar tanpa khawatir jalur putus saat banjir.
- Air bersih mengalir ke rumah-rumah, memungkinkan ibu-ibu memasak dan anak-anak mandi tanpa harus berjalan jauh ke sungai.
- Sarana pendidikan diperbaiki, seperti ruang kelas dan fasilitas belajar, agar anak-anak Papua bisa menimba ilmu dengan lebih nyaman.
Bukan hanya beton dan kayu yang disatukan, tapi juga harapan baru bagi setiap keluarga di Kampung Urum dan sekitarnya. Setiap pembangunan adalah cermin kepedulian yang nyata terhadap kehidupan warga desa.
Sinergi TNI, Pemda, dan Warga: Kunci Keberhasilan
Mayjen TNI Frits Willem Rizard Pelamonia, Pangdam XXIV/Mandala Trikora, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberhasilan Karya Bakti tidak hanya diukur dari jumlah bangunan. Lebih dari itu, yang terpenting adalah manfaat yang dirasakan masyarakat dan tumbuhnya semangat kebersamaan. Beliau mengapresiasi dedikasi para prajurit, serta sinergi erat dengan pemerintah daerah, Polri, dan tokoh masyarakat. Gotong royong inilah yang membuat program berjalan lancar dan membawa perubahan nyata bagi Papua Selatan.
Di akhir upacara, Pangdam berpesan agar semua hasil pembangunan diserahkan dan dirawat bersama. “Pembangunan akan menjadi lebih kuat apabila dilaksanakan secara bersama-sama dengan mengedepankan kepentingan masyarakat,” ujarnya. Pesan ini menjadi penutup yang sempurna, mengingatkan bahwa pengabdian TNI tidak berhenti pada upacara penutupan. Justru, tugas baru dimulai: menjaga dan merawat apa yang sudah dibangun agar terus memberi manfaat bagi generasi mendatang.
Di bawah langit senja Merauke, warga Kampung Urum melambai kepada para prajurit yang akan kembali ke markas. Namun, mereka tahu bahwa ikatan batin yang terbangun tidak akan pernah putus. Karya Bakti mungkin resmi ditutup, tetapi semangat gotong royong dan rasa saling memiliki akan terus hidup di hati setiap insan. Sebab, pembangunan sejati bukan hanya tentang infrastruktur, melainkan tentang kebersamaan yang terus menyala di setiap rumah, menyatukan kita semua dalam satu harapan.