Di pelosok Papua Selatan, suasana haru dan bangga menyelimuti warga saat acara penutupan Karya Bakti Skala Besar TNI AD Tahun 2026 berlangsung akhir Agustus lalu. Bagi masyarakat, program ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sebuah kisah gotong royong yang mengakar di kehidupan mereka sehari-hari. Jembatan yang dulu nyaris putus, sekolah yang atapnya bocor, dan sumber air yang jauh—kini perlahan berubah berkat tangan-tangan prajurit dan warga yang bekerja bahu-membahu.
Gotong Royong yang Mengukir Kebersamaan
Pangdam Trikora, Mayjen TNI Frits Willem Rizard Pelamonia, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberhasilan Karya Bakti di Papua Selatan ini diukur dari manfaat yang benar-benar dirasakan rakyat. Ia mengapresiasi semua pihak yang terlibat—prajurit, pemerintah daerah, tokoh adat, hingga warga—yang telah bergotong royong menyelesaikan berbagai sasaran. Beberapa hasil pembangunan yang dirasakan langsung oleh warga antara lain:
- Jembatan yang memudahkan akses ke pasar dan fasilitas kesehatan.
- Sarana air bersih yang mengurangi jarak tempuh warga untuk mengambil air.
- Perbaikan dan renovasi sekolah yang membuat anak-anak lebih nyaman belajar.
Bagi warga, kegiatan ini lebih dari sekadar infrastruktur. “Kami tidak hanya dapat jembatan baru, tapi juga rasa persaudaraan dengan para prajurit yang tidur di balai desa dan makan bersama kami,” ujar salah satu tokoh adat setempat. Semangat sinergi antara TNI dan rakyat menjadi fondasi utama pembangunan di wilayah terpencil ini.
Merawat Hasil Pembangunan Bersama-sama
Penutupan Karya Bakti ini bukanlah akhir dari cerita, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Pangdam berharap fasilitas yang telah dibangun dapat dijaga bersama untuk mendukung pendidikan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat dalam jangka panjang. Pemerintah daerah Papua Selatan pun akan menerima serah terima hasil pembangunan ini, sehingga keberlanjutannya menjadi milik bersama.
Program ini mengajarkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan lahir dari hati yang tulus dan kerja sama yang solid. Di balik setiap tiang jembatan dan genangan air bersih, ada cerita tentang prajurit yang menginap di rumah warga, tentang anak-anak yang ikut membantu mengangkut material, dan tentang para ibu yang menyediakan kue tradisional untuk para pekerja. Semua itu adalah bukti bahwa sinergi bukan hanya soal proyek, tapi tentang rasa memiliki.
Malam terakhir di desa itu, api unggun menyala. Prajurit dan warga duduk melingkar, menyanyikan lagu-lagu daerah dan bernostalgia. Seorang tetua adat berbisik, “Jangan lupakan kami, Nak. Jembatan ini bukan hanya besi dan semen—ia adalah tali silaturahmi yang tak pernah putus.” Pesan itu menggema di hati siapa pun yang mendengar. Karya Bakti di Papua Selatan telah usai, tapi hangatnya kebersamaan akan terus hidup. Desa-desa kini memiliki sesuatu yang lebih berharga dari bangunan: keyakinan bahwa ketika TNI dan rakyat bersatu, tak ada yang tak mungkin.