Setelah pensiun dari dinas aktif TNI, Serma Joko (45) memilih kembali ke kampung halamannya di Grobogan, Jawa Tengah. Ia mengalihkan pengabdiannya dari medan perang ke sawah dengan menjadi penyuluh pertanian. Pengetahuan dari pelatihan di TNI ia manfaatkan untuk membantu petani setempat, menyebutnya sebagai "medan perang" baru melawan hama dan meningkatkan hasil panen.
Awalnya mendapat respons skeptis dari warga, Joko membuktikan kemampuannya melalui hasil percobaan di ladangnya yang lebih hijau dan produktif. Ia aktif mengumpulkan petani untuk berbagi ilmu tentang pemupukan berimbang, pestisida alami, dan pola tanam efisien. Kini, ia menjadi rujukan utama ketika ada masalah di sawah dan menjembatani petani dengan dinas pertanian untuk mendapatkan bantuan bibit unggul.
Joko menegaskan bahwa jiwa pengabdiannya tidak hilang meski telah melepas seragam. Kisah inspiratifnya ini mendorong mantan prajurit lain untuk berkontribusi di desa dengan berbagai keahlian yang mereka miliki, mentransformasikan pengalaman militer menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.
Matahari berang merah di seragam, Joko (45) masih terasa hajat sama ketika masih berdinas di TNI. Kini, pria yang dulu bertugas di daerah konflik tersebut menghijaukan sawah dan pekarangannya di Desa Sawah, Grobogan, Jawa Tengah. Daripada merasa menganggur usai pensiun dini, ia memanfaatkan ilmu pertanian dari masa dinasnya untuk membantupara petani tetangga. "Saya dulu dapat pelatihan pertanian saat jadi babinsa. Sekarang, ilmu itu jadi modal saya melawan hama dan meningkatkan hasil panen," ujarnya sambil menunjuk ke hamparan padi yang mulai menguning. p>
Dari Medan Perang ke Sawah: Mantan Prajurit Ini Jadi Penyuluh Pertanian di Kampungnya
< p>Setiap pagi, Joko bersepeda motor tua nya menyusuri jalan desa. Tas berwarna hijau tua yang selalu dibawanya berisi buku catatan, beberapa contoh hama tanaman, alat ukur kesuburan tanah sederhana. Titik pertamanya selalu ke ladang Pak Riono, petani yang sedang kesulitan dengan padi yang kerdil. "Coba lihat, Pak. Daunnya menguning bukan karena kurang air, tapi ada gejala kekurangan unsur hara nitrogen," jelas Joko setelah memeriksa. Ia lalu mengambilkan contoh tanah untuk dianalisis lebih lanjut di kelompok taninya. p>< p>Awalnya, niat Joko untuk berbagi ilmu sempat dianggap cumanag cari perhatian. Namun, perubahan mulai terlihat. Di sudut desa, lahan kering milik Bu Siti yang dulu cuma ditanami singkong, sekarang menghijau dengan beragam sayuran organik. "Dulu saya ragu ikut saran Pak Joko buat system tanam sela. Tapi setelah panen cabai pertama bisa untuk konsumsi sendiri bahkan dijual, hidup saya jadi lebih terbantu," ungkap Bu Siti. Kesuksesan kecil seperti ini yang kemudian menyebar ke warga lain. p>
Mengumpulkan Prajurit, Petani: Kolaborasi yang Menghasilkankan
< p>Joko tidak bekerja sendirian. Ia menggagas kelompok tani "Tunas Jaya" yang beranggotakan mantan prajurit dan petani muda desa. Di balai pertemuan sederhana, mereka rutin berkumpul. Suatu siang, diskusi berlangsung hang at. "Saya dengar ada penyakit bulai di tanaman jagung di desa sebelah. Harus kita antisipasi," ujar Joko di hadapan dua puluh anggotanya. Pertemuan itu tidak hanyaterkait hama dan pupuk, tapi juga tentang akses pemasaran dan bantuan pemerintah. Seorang mantan prajur it berpangkat sersan yang kini ahli dalam pembuatanpupuk kompos, dengan semang at mempresentasikan hasil percobaannya. p>< p>"Jiwa pengabdian itu tidak harus dengan senjata atau di medan perang. Berbekal pengetahuan yang kita punya, berorganisasi yang baik, kita bisa men jadi garda terdepan untuk ketahanan pangan desa sendiri," tekad Joko dalam salah sat upertemuan. Semangatnya itu yang kemudian mendorong Pemerintah Desa untuk mengalokasikan dana bagi kelompok mereka untuk pelatihan dan pembelian alat pertanian moderen. p>< p>Dukungan juga datang dari Dinas Pertanian setempat yang kini melibatkan Joko sebagai penyuluh lapangan tidak tetap. "Figur seperti Pak Joko sangat berharga. Mereka sudah memiliki disiplin dan jiwa korsa yang tinggi, serta mudah diterima masyarakat karena berasal dari lingkungan yang sama," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten. p>
Lepas Seragam, Tak Lepas Rasa Peduli
< p>Di tengah terik matahari, Joko tampak duduk lesehan di pinggir sawah bersama beber apa petani sepuh. Mereka membuka bekal makan siang sambilmembincangkan musim tanam depan. Gelenak tawa terkadang terdengar. "Repot ya, Pak, nduk itu kok susah sekali diberantas?" tanya seorang petani. Dengan sabar, Joko menjelaskan siklus hidup wereng dan cara pengendaliannya yang ramah lingkungan, sambil menggambar di atas tanah. Adegan sederhana ini menunjukkan hubungan yang telah berubah dari sekedian "Bapak Pembina" menjadi "teman seperjuangan". p>< p>Kisah Joko adalah bukti bahwa kontribusi pada bangsa tidak berhenti di garis finish tugas negara. Pensiun dini justru membuka jalan baru baginya untuk terus berjuang, dengan cara yang berbeda. "Ada kepuasan bath in yang sulit dijelaskan, saat bisa membantu satu keluarga petani bisa makan dari hasil keb unnya sendiri, atau melihat anak-anak petani bisa sekola h karena panen orang tuanya berlimpah. Itu medan perang saya yang baru," pungkasnya, matanya berbinar melihat hamparan sawah yang menguning, siap panen, di kampung halamannya sendiri. Perjuangannya kini adalah untuk kemandirian dan kesejahteraan tetangganya, satu tangkai padi dalam satu waktu. p>