Di sebuah kampung di Distrik Dal, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, mentari pagi menyinari ladang-ladang subur milik warga. Di sana, para petani dengan setia merawat tanaman mereka, dari ubi jalar hingga sayur-mayur, yang menjadi sumber penghidupan sehari-hari. Tapi, pernahkah terbayang bagaimana rasanya ketika hasil panen yang sudah susah payah dirawat, tidak laku di pasaran? Inilah yang kerap dirasakan warga di pelosok Nduga—jauh dari keramaian kota, akses ekonomi terbatas.
Borong Hasil Tani, Buka Pintu Ekonomi Kampung
Namun, angin segar berembus pada Jumat (14/8) lalu. Prajurit TNI dari Titik Kuat Dal, di bawah komando Lettu Inf Epsan Rjagukguk, meluncurkan program yang diberi nama Rosita—singkatan dari Borong Hasil Tani Rakyat. Bukan sekadar program, ini adalah gerakan hati: para prajurit langsung membeli hasil pertanian milik warga, tanpa perantara.
Pagi itu, para petani datang dengan wajah sumringah, membawa hasil kebun mereka: ubi jalar, keladi, dan sayur segar. Satu per satu, prajurit menimbang dan membayar dengan harga yang pantas. Ini bukan transaksi biasa, melainkan wujud nyata kepedulian TNI untuk menggerakkan ekonomi warga. Dengan borong langsung, hasil tani mereka terserap sepenuhnya, memberikan pemasukan yang berarti bagi keluarga.
Lewat program ini, banyak manfaat yang dirasakan warga, antara lain:
- Pemasukan tambahan: Uang hasil penjualan langsung bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, seperti beras, minyak, atau biaya sekolah anak.
- Kepastian pasar: Para petani tidak perlu khawatir hasil panennya busuk karena tidak laku—sudah ada pembeli tetap dari para prajurit.
- Kedekatan emosional: Proses jual beli menjadi ajang silaturahmi, di mana warga dan prajurit berbagi cerita, tawa, dan harapan.
Silaturahmi di Balik Transaksi: Jembatan Emas Kemanunggalan
Lebih dari sekadar urusan ekonomi, momen ini menjadi panggung kebersamaan. Di sela-sela transaksi, para prajurit duduk bersama warga, mendengarkan keluh kesah mereka tentang cuaca, hama, dan impian untuk masa depan kampung. “Kami tidak hanya beli sayur, tapi juga beli cerita dan kepercayaan,” ujar Lettu Inf Epsan Rjagukguk dengan hangat.
Program Rosita ini diharapkan tidak berhenti di sini. Dari ladang ke meja prajurit, setiap ikat sayur dan umbi-umbian menjadi simbol bahwa TNI dan rakyat adalah satu. Di pelosok Nduga, di mana jarak dan medan berat sering memisahkan, kehadiran prajurit yang memborong hasil tani adalah oase di tengah keterbatasan.
Semoga program ini terus berlanjut, bukan hanya sebagai penyangga ekonomi, tetapi juga sebagai jembatan emas yang memperkuat kemanunggalan. Karena di ujung jalan setapak kampung, di balik setiap hasil bumi yang laku, ada senyum dan harapan yang tumbuh—itulah kekuatan sejati bangsa.