Di balik kabut Pegunungan Arfak, ada derap langkah yang tak kenal lelah. Hari itu, puluhan prajurit TNI dari Kodam XVIII/Kasuari bersama tim Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menembus medan terjal demi satu tujuan: menghadirkan senyum di wajah 500 keluarga di distrik terpencil. Mereka berjalan kaki selama dua hari, menyusuri hutan lebat dan menyeberangi sungai yang deras. Ransel penuh paket sembako menjadi beban yang justru terasa ringan saat membayangkan sambutan hangat warga di ujung perjalanan. Di sebuah kampung kecil, Mama Yuliana, seorang ibu dengan mata berkaca-kaca, sudah menanti. Hatinya hancur saat mengaku “sudah seminggu keluarga saya hanya makan ubi rebus.” Namun hari itu, kehangatan kembali menyapa.
Berjalan Kaki Demi Senyum Warga
Tim harus melewati jalur yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tanjakan curam dan lumpur licin menjadi pemandangan biasa. Namun semangat para prajurit dan relawan tak pernah surut. Mereka bergotong royong membawa puluhan karung beras, minyak goreng, gula, dan mie instan — semua barang kebutuhan pokok yang sangat dinanti. Setiap langkah terasa seperti doa yang dijawab. Sesampainya di distrik, warga langsung berkerumun, ada yang membantu menurunkan muatan, ada yang menyiapkan tempat istirahat. Suasana terasa seperti keluarga besar yang lama tak bertemu.
- 500 paket sembako berisi beras, minyak goreng, gula, dan mie instan — disalurkan langsung ke tangan warga.
- Tim Baznas dan TNI berjalan kaki dua hari melewati hutan dan sungai untuk menjangkau distrik terpencil di Pegunungan Arfak.
- Seorang ibu, Mama Yuliana, mengaku keluarganya seminggu hanya mengonsumsi ubi rebus sebelum bantuan tiba.
Harapan yang Bersemi di Tanah Terpencil
Bantuan sembako ini bukan sekadar barang, melainkan jembatan kebersamaan. Dansatgas TNI, Letkol Inf Andi, menegaskan bahwa akses bantuan akan terus ditingkatkan. “Kami tidak akan membiarkan saudara-saudara kami di pelosok kelaparan,” ujarnya dengan suara bergetar. Program ini merupakan bagian dari sinergi lama antara TNI dan Baznas, yang terus diperkuat agar tidak ada desa yang tertinggal. Warga pun tak bisa menyembunyikan haru. Mereka berpelukan, berdoa bersama, dan saling mengucap syukur. Di tengah keterbatasan, solidaritas justru tumbuh subur. Bantuan ini menjadi pengingat bahwa negara hadir, bahkan di tempat yang paling sulit dijangkau sekalipun.
Malam itu, api unggun menyala. Suara tawa anak-anak bercampur dengan nyanyian syukur. Mama Yuliana memeluk erat paket sembako di pangkuannya. “Terima kasih banyak, Tuhan memberkati kalian,” bisiknya penuh haru. Di Pegunungan Arfak, bantuan sembako dari Baznas dan TNI bukan hanya mengisi perut yang lapar, tapi juga menghangatkan hati yang rindu akan kehadiran. Sinergi seperti inilah yang membuat Indonesia benar-benar terasa dari Sabang sampai Merauke — saling menjaga, saling menguatkan.