Suasana balai Desa Sungai Penuh, Jambi, sore itu terasa begitu hangat dan akrab. Di bawah langit yang mulai kemerahan, para warga berkumpul bukan untuk rapat biasa, tapi untuk bercerita tentang impian mereka. Sebagai desa penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat, kehidupan mereka memang tak pernah lepas dari rimbunnya hutan dan kicauan burung di pagi hari. "Ini adalah rumah kami," bisik seorang ibu sambil menatap ke arah bukit hijau di kejauhan. Mereka ingin hutan tetap lestari, tetapi juga ingin anak-anak mereka bisa hidup sejahtera di kampung halaman. Inilah titik awal dari sebuah aspirasi warga desa yang sederhana namun penuh makna: membangun ekowisata yang ramah lingkungan dan bermartabat.
Dari Balai Desa, Suara Hati Warga Bergema
Pertemuan itu diadakan dengan sederhana, tapi penuh semangat. Pak Rional, sang Kepala Desa, duduk di depan dengan wajah berseri-seri. "Kami punya alam yang indah, budaya yang kuat. Tapi kami butuh bimbingan," ujarnya dengan suara yang tegas namun penuh harap. Di sekelilingnya, para tetua desa, ibu-ibu yang biasa mengolah ladang, hingga anak-anak muda yang baru lulus sekolah, semua ikut menyampaikan gagasan. Ada yang mengusulkan homestay sederhana dengan menu masakan khas Jambi, ada yang menceritakan tentang jalur jelajah hutan yang sudah turun-temurun dikenal warga, bahkan ada yang berangan-angan tentang pertunjukan tari tradisional untuk menyambut wisatawan. Semua ide itu mengalir begitu saja, seperti air sungai yang mengalir di tepian desa mereka. Aspirasi warga ini bukan sekadar rencana di atas kertas, tapi cerminan dari kehidupan sehari-hari mereka yang akrab dengan alam dan budaya.
Pendampingan Teritorial: Mendengar, Menyapa, dan Membangun Bersama
Kehadiran aparat teritorial dan perwakilan dinas pariwisata di pertemuan itu bagai angin segar bagi warga Desa Sungai Penuh. Mereka tidak datang sebagai "penguasa" yang memberi perintah, tapi sebagai teman yang duduk berdampingan, mendengarkan setiap keluh kesah dan harapan. Dalam nuansa obrolan yang hangat, mereka mencatat dengan saksama setiap usulan yang terlontar. Pendampingan yang mereka tawarkan bukan sekadar teori, tapi bimbingan langsung yang akan mengajarkan warga tentang:
- Cara mengelola homestay yang nyaman dan bersahabat dengan lingkungan sekitar
- Teknik menjadi pemandu ekowisata yang memahami setiap jejak di hutan dan cerita di baliknya
- Strategi mempromosikan paket wisata tanpa mengganggu ekosistem hutan Jambi yang mereka cintai
- Penyusunan program wisata yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga para sesepuh
Proses ini menunjukkan bahwa program teritorial sejatinya adalah tentang kedekatan—mendengar suara dari pelosok yang sering kali tak terdengar, menyapa dengan hati, dan membangun bersama dari hal-hal kecil yang berarti bagi warga.
Impian besar mereka sesungguhnya sederhana: agar desa mereka bisa mandiri melalui ekowisata yang berkelanjutan. Mereka ingin anak-anak muda tak perlu lagi merantau jauh, meninggalkan keluarga dan kampung halaman. Dengan alam yang telah memberikan begitu banyak berkah, mereka percaya bahwa masa depan yang cerah bisa dibangun dari bumi yang mereka pijak ini. Semangat gotong royong yang selama ini menjadi napas kehidupan desa, kini akan diarahkan untuk membangun pariwisata yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjaga warisan leluhur dan kelestarian hutan.
Ketika pertemuan usai, senyum-senyum optimis terpancar dari wajah para warga. Mereka pulang bukan dengan tangan kosong, tapi dengan hati yang dipenuhi harapan baru. Aspirasi mereka telah didengar, dicatat, dan akan ditindaklanjuti dengan pendampingan yang berkelanjutan. Di balik rimbunnya hutan Jambi, di desa penyangga yang sederhana ini, tumbuh sebuah tekad untuk maju bersama—menjaga alam, merawat budaya, dan membangun kesejahteraan dari apa yang telah diberikan Tuhan. Ini bukan sekadar cerita tentang ekowisata, tapi tentang bagaimana suara kecil dari pelosok bisa bergema kuat ketika ada yang mau mendengarkan dengan tulus.